Bagaimana caranya kita bisa bangkit dari kehidupan yang seringkali menghantam kita dengan berbagai pergumulan serta masalah secara bertubi-tubi? Salah satunya adalah dengan membangun kesadaran yang teguh dan relasional pada keberadaan Sang Pencipta yang senantiasa menenun kebaikan walau apapun juga yang terjadi.
Bagian perikop kita yang paling dikenal mungkin ada di ayat 11, “Sebab, Aku mengetahui rancangan-rancangan yang Kupikirkan mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan malapetaka, untuk memberikan masa depan yang penuh harapan.” Perhatikanlah betapa indahnya perkataan Tuhan tersebut, terutama bila kita mengingat bahwa ayat tersebut disampaikan kepada mereka yang tengah kalah dan dipecundangi situasi. Yehuda dikalahkan babel, tawanan perang dibawa ke negeri Babel, mereka mengalami kehilangan yang tidak terperikan. Mulai dari nyawa hingga harta benda. Lebih berat lagi, Tuhan baru saja memberitahu mereka bahwa penderitaan itu akan berlangsung selama 70 tahun. Sehingga Tuhan memerintahkan umat-Nya tersebut untuk move on dan melanjutkan kehidupan. Mulai menata hidup di negeri asing bahkan mensejahterakan kota dimana mereka akan dibuang.
Apakah dengan demikian Tuhan menginginkan bangsa Yehuda untuk menyerah kepada keadaan? Sama sekali tidak, melainkan Ia ingin agar umat menghadapi realitas baru, sepahit apapun itu, dengan sebaik-baiknya. Bukankah terkadang saat persoalan datang bertubi-tubi yang kita inginkan adalah segera lari dari kenyataan dan berpindah pada situasi yang kita inginkan? Berandai-andai kapan masalah itu akan selesai. Justru dalam pergumulan tersebut, Tuhan menghendaki kita untuk terus melanjutkan langkah. Setapak demi setapak sampai hingga melihat ujung jalan yang terang itu. Jangan takut dan khawatir karena Ia menjadi rekan peziarahan kita. Menapaki tanah gersang antah berantah tetapi tetap berlimpah rahmat dan kesejukan.
























