Dari semula Allah menghendaki relasi yang hidup dengan-Nya. Maka dalam relasi itulah Allah masuk ke kedalaman kehidupan umat-Nya. Di dalamnya kadangkala ada rasa sukacita yang membuncah atau kesedihan yang menyayat hati. Pengalaman-pengalaman manusiawi itulah yang menjadi dasar dari pengalaman iman dan relasi dengan-Nya. Sehingga pada akhirnya Allah dapat dirasakan kehadirannya secara nyata.
Perikop kita kali ini menggambarkan sebuah perjalanan emosional bangsa Israel yang begitu luar biasa. Dalam ayat 15 disebut kota Rama yang merupakan sebuah kota di utara Yerusalem yang menjadi titik kumpul para tawanan Yehuda sebelum mereka digiring ke pembuangan di Babel. Rahel, istri yang sangat dicintai Yakub dan ibu dari Yusuf serta Benyamin, dipersonifikasikan sedang menangisi keturunannya yang hilang. Sebuah tangisan dan trauma kolektif yang diungkapkan dengan jujur dan dilihat oleh-Nya.
Allah merespon tangisan tragis ini dengan perintah untuk berhenti menangis. Ia menjanjikan sebuah harapan bagi masa depan Israel. Tangisan itu tidak akan menjadi akhir dari cerita umat-Nya, melainkan di masa depan Allah akan mengerjakan masa depan yang penuh harapan. Mereka akan kembali pulang ke tanah terjanji. Pada akhirnya Israel pun menyadari pemberontakannya dan kembali kepada pelukan Allah. Pengajaran Allah membuahkan ketaatan. Kesalahan masa lalu tidak menentukan jalinan kasih di masa depan, asalkan ada pertobatan disana maka Allah mewartakan pengampunan dan merajut masa depan yang penuh harapan.
Sahabat Alkitab, kita semua pernah melakukan kesalahan dan dosa. Namun titik yang terpenting adalah apakah kita mau bertobat dan mengakui segala kesalahan kita, maka Allah akan mengampuni dosa serta kesalahan kita. Itu semua dapat terjadi karena kasih-Nya yang begitu besar dan Ia menghendaki agar kita berelasi dengan-Nya secara utuh. Allah memahami dan mengerti keberadaan kita. Maka janganlah ragu untuk menghampiri-Nya dalam ketulusan.
























