Ada orang yang menanam pohon meskipun ia tahu mungkin bukan dirinya yang kelak menikmati teduhnya. Ia menggali tanah, menanam benih, menyiramnya, lalu merawatnya hari demi hari. Ia tidak tahu kapan pohon itu akan menjadi besar. Ia juga tidak tahu siapa yang kelak duduk di bawah naungannya. Namun, ia tetap menanam. Sebab tidak semua yang kita kerjakan hari ini harus segera memberikan hasil. Ada hal-hal yang kita lakukan karena kita percaya bahwa masa depan tetap layak dipersiapkan, bahkan ketika kita sendiri belum dapat melihatnya. Barangkali karena itu kisah Yeremia dalam Yeremia 32:1–25 terasa begitu dekat. Ketika Yerusalem sedang dikepung tentara Babel, Yeremia justru diminta membeli sebidang tanah di Anatot. Ia sendiri sedang dipenjara di pelataran penjagaan istana karena nubuatnya bahwa Yerusalem akan jatuh dan Raja Zedekia akan ditawan. Dalam keadaan demikian, membeli tanah tampak tidak masuk akal. Untuk apa memiliki tanah ketika negeri sedang menuju kehancuran?
Namun, pembelian itu bukan sekadar transaksi. Dalam Imamat 25:23-28, tanah pusaka pada dasarnya adalah milik Tuhan dan kerabat terdekat dapat menebusnya. Karena itu, tindakan Yeremia menjadi tindakan kenabian: sebuah tanda bahwa kehancuran bukanlah akhir. Surat pembelian tanah disimpan sebagai kesaksian bahwa suatu hari rumah, ladang, dan kebun anggur akan kembali dimiliki di negeri itu. Tentu, Yeremia tidak menjalani semua itu tanpa kegelisahan. Setelah membeli tanah, ia datang kepada Tuhan dan mencurahkan isi hatinya. Ia mengingat kuasa keadilan, dan kasih setia Tuhan, tetapi juga mengakui kenyataan yang sedang dihadapinya. Ia tidak dapat mengendalikan tentara Babel ataupun masa depan. Yang dapat ia lakukan adalah tetap setia pada apa yang Tuhan percayakan.
Sahabat Alkitab, mungkin kita pun pernah merasa seperti menanam pohon di tanah yang gersang: belum melihat hasil dan tidak tahu bagaimana semuanya akan berakhir. Ketidakpastian sering membuat kita ingin mengendalikan apa yang sebenarnya berada di luar kendali kita. Padahal, kita tidak selalu tahu apa yang menanti esok hari. Yang dapat kita lakukan adalah mengerjakan bagian kita dengan setia, sambil menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Sebab iman bukanlah tentang kemampuan melihat seluruh jalan di depan, melainkan keberanian untuk melangkah hari ini dan percaya bahwa masa depan ada dalam tangan-Nya.
























