Belakangan ini, kita melihat ada pemimpin agama yang berani menyampaikan kritik kepada pemerintah. Namun, pada saat yang sama, kita juga melihat bagaimana suara keagamaan dapat begitu dekat dengan kekuasaan sehingga lebih mudah memberikan pembenaran daripada menyampaikan koreksi. Situasi ini mengingatkan kita bahwa berbicara benar di hadapan kekuasaan membutuhkan keberanian. Namun, ada keberanian lain yang tidak kalah penting, yaitu keberanian untuk mendengar kebenaran, terutama ketika kebenaran itu tidak sesuai dengan keinginan kita.
Yeremia 37:1-21 memperlihatkan Zedekia yang meminta Yeremia berdoa dan kemudian bertanya, “Adakah firman dari TUHAN?” Yeremia menjawab bahwa ada firman, tetapi isinya bukan kabar yang ingin didengar sang raja: Zedekia akan diserahkan ke tangan raja Babel. Yeremia tidak mengubah pesannya hanya karena pendengarnya seorang raja. Ia menyampaikan apa yang diyakininya sebagai firman Tuhan, meskipun pesan itu tidak menyenangkan dan bahkan membuatnya dipenjara.
Sahabat Alkitab, persoalan mendengar kebenaran ternyata bukan hanya milik orang yang berada di puncak kekuasaan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun dapat memiliki “kekuasaan” dalam ruang kita masing-masing, seperti di tempat kerja, dalam keluarga, atau dalam relasi dengan orang lain. Ketika kita terbiasa didengar, kita dapat lebih mudah menolak suara yang mengoreksi kita. Kita cenderung lebih nyaman menerima informasi yang sesuai dengan apa yang sudah kita yakini. Karena itu, ketika rekan kerja mengkritik cara kita bekerja, pasangan menunjukkan sikap kita yang ternyata melukai mereka, atau seorang sahabat mempertanyakan keputusan yang kita ambil, respon pertama kita mungkin adalah membela diri. Padahal, mungkin ada sesuatu yang perlu kita dengarkan.
Karena itu, mendengar kebenaran membutuhkan kerendahan hati untuk berhenti sejenak sebelum membela diri dan bertanya, “Adakah sesuatu yang perlu kulihat dan ku ubah dari diriku?” Sebab, terkadang yang paling sulit bukan menemukan kebenaran, melainkan menerima kebenaran yang memaksa kita mengubah cara pandang.
























