Kita mengenal kisah Orang Samaria yang Baik Hati, seseorang yang berhenti ketika melihat orang lain terluka dan memilih untuk menolongnya. Namun, jauh sebelum kisah itu diceritakan Yesus, Perjanjian Lama telah mencatat kisah serupa melalui seorang tokoh yang mungkin jarang kita perhatikan: Ebed-Melekh. Ia adalah seorang pembesar Etiopia yang tinggal di istana Raja Zedekia. Namanya muncul dalam situasi yang genting, ketika Yeremia hampir kehilangan nyawanya karena menyampaikan pesan yang tidak ingin didengar para pemuka.
Yeremia dimasukkan ke dalam sebuah sumur penampungan air yang kosong dan hanya menyisakan lumpur. Para pejabat tidak sekadar ingin menghukumnya, tetapi membiarkannya mati perlahan tanpa pertumpahan darah. Di tengah situasi itu, Ebed-Melekh datang kepada raja dan memohon agar Yeremia diselamatkan. Menariknya, kepedulian Ebed-Melekh tidak berhenti pada keputusan untuk menolong. Ia juga memikirkan bagaimana Yeremia akan diangkat dari dalam sumur. Ia meminta kain-kain bekas diletakkan di bawah ketiak Yeremia agar tali yang digunakan tidak semakin melukai tubuhnya. Perhatian kecil ini menunjukkan bahwa belas kasih bukan hanya keinginan untuk mengakhiri penderitaan seseorang, tetapi juga kepekaan terhadap cara kita menolongnya.
Sahabat Alkitab, dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat penderitaan orang lain tanpa menyadari bahwa apa yang kita lihat sebenarnya menempatkan kita pada sebuah pilihan. Kita dapat memilih untuk diam karena merasa itu bukan urusan kita, atau berharap akan ada orang lain yang lebih dahulu menolong. Namun, Ebed-Melekh menunjukkan kemungkinan yang berbeda: apa yang dilihatnya tidak berhenti sebagai informasi, tetapi menggerakkannya untuk peduli dan bertindak. Kita mungkin tidak selalu mampu menyelesaikan persoalan orang lain, tetapi dalam ruang yang kita miliki, selalu ada sesuatu yang dapat kita lakukan: mendengarkan tanpa menghakimi, menemani seseorang yang sedang sendirian, menggunakan suara ketika melihat orang lain diperlakukan tidak adil, atau memberikan pertolongan dengan cara yang tidak menambah luka. Sebab, kepedulian bukan hanya tentang kemampuan untuk melihat penderitaan orang lain, tetapi tentang kesediaan membiarkan apa yang kita lihat menggerakkan kita untuk bertindak.
























