Mengetahui apa yang benar tidak selalu membuat seseorang mudah memilihnya. Kita bisa memahami apa yang seharusnya dilakukan, tetapi pada saat yang sama merasa takut terhadap apa yang mungkin terjadi jika kita melakukannya. Ada pilihan yang menuntut kita melepaskan sesuatu yang berharga, mengecewakan orang lain, meninggalkan rasa aman, atau menghadapi akibat yang belum siap kita tanggung. Karena itu, sebuah keputusan tidak pernah hanya berbicara tentang apa yang kita yakini benar. Di baliknya ada ketakutan, harapan, kepentingan, dan berbagai hal yang sedang berusaha kita pertahankan.
Pergumulan seperti itu terlihat dalam diri Zedekia. Yerusalem sedang dikepung Babel ketika sang raja diam-diam memanggil Yeremia dan meminta jawaban yang jujur. Yeremia tidak memberinya harapan palsu. Ia mengatakan bahwa jika Zedekia menyerahkan diri kepada para pemimpin Babel, ia akan tetap hidup dan kota itu tidak akan dibakar. Namun, di hadapan pilihan itu, Zedekia berkata, “Aku takut kepada orang-orang Yehuda yang menyeberang kepada orang Kasdim itu karena mungkin saja aku diserahkan ke dalam tangan mereka, sehingga mereka menganiaya aku.” Sebagai raja, ia tidak hanya menghadapi ancaman dari luar, tetapi juga tekanan dari dalam. Pilihannya dapat menentukan nasib dirinya, kota, dan rakyat yang dipimpinnya.
Sahabat Alkitab, mungkin kita pun pernah berada di persimpangan seperti Zedekia. Menyadari bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi dapat membuat kita ragu mengambil keputusan dan terus mencari kemungkinan lain, meskipun arah yang hendak dituju belum jelas. Menunda memang dapat memberi rasa lega untuk sementara. Namun, menghindari persoalan tidak akan membuatnya selesai. Kita dapat mulai dengan mengenali apa yang sebenarnya kita takutkan, melihat apa yang masih dapat kita kendalikan, lalu mengambil satu langkah kecil untuk menghadapinya. Kita mungkin tidak mengetahui seluruh jalan di depan, tetapi kita selalu dapat memilih untuk melangkah dan mempercayakan jalan itu kepada Tuhan.
























