Moab terletak di dataran tinggi sebelah timur Laut Mati (kini wilayah Yordania). Posisinya yang tinggi dan terlindungi membuat mereka aman dari banyak jalur invasi utama. Mereka memiliki tanah pertanian yang subur dan kebun anggur yang melimpah. Karena letak geografis ini, Moab sangat makmur dan merasa tidak tertembus. Dosa mendasar Moab diungkapkan dalam perikop ini, yaitu rasa aman yang berlebihan terhadap stabilitas, kekayaan, serta kekuasaan yang mereka punya.
Beginilah Yeremia menggambarkan kondisi Moab, “Moab hidup tenteram sejak masa mudanya, dia hidup tenang seperti anggur di atas endapannya. Ia tidak dituangkan dari tempayan yang satu ke tempayan yang lain, tidak pernah masuk ke dalam pembuangan; sebab itu rasanya tetap padanya, dan baunya tidak berubah (Yeremia 48:11). ” Di zaman kuno, agar anggur menjadi jernih dan berkarakter, anggur harus berulang kali dituang dari satu tempayan tanah liat ke tempayan lainnya. Proses penuangan ini memisahkan cairan murni dari endapan pahit di dasarnya. Jika anggur dibiarkan diam terlalu lama bersama endapannya, ia akan menjadi kental, aromanya stagnan, dan rasanya rusak. Moab adalah anggur yang tidak pernah dituang. Ketika mereka tidak pernah mengalami krisis dan kesulitan, keangkuhan timbul dan mengandalkan kuasa mereka sendiri serta melupakan Tuhan. Sehingga akhirnya Tuhan memilih untuk mendidik mereka.
Bagaimana dengan kita? Sering kali, Tuhan mengizinkan krisis datang dalam kehidupan kita. Saat hal tersebut terjadi biasanya kita dengan mudahnya menyalahkan segala sesuatu dan menggerutu. Namun marilah belajar untuk melihat dan mengimani bahwa pada akhirnya Allah akan mendatangkan kebaikan. Bahkan dari situasi krisis sekalipun yang kita hadapi. Percayalah bahwa Tuhan senantiasa mengasihi kita. Kasih itu dinyatakan baik melalui dekapan lembutnya maupun pengajaran-Nya yang penuh dengan ketegasan.
























