“Coba kita lihat sisi positifnya!” Nasihat ini mungkin pernah kita dengar ketika tengah menghadapi pergumulan. Maksudnya bisa jadi baik, tetapi terkadang kita justru merasa dituntut untuk segera berhenti bersedih, seolah-olah mengakui rasa sakit berarti kehilangan pengharapan. Padahal, tidak semua luka dapat pulih hanya dengan mengubah cara pandang.
Pergumulan semacam ini tergambar dalam Ratapan 3:18-48. Pada awal bagian ini, penyair mengakui bahwa harapan dan kekuatannya kepada Tuhan seolah telah lenyap. Ingatan tentang penderitaan terus menghantuinya, membawa kepahitan dan perasaan tertekan. Ia belum menemukan jalan keluar dari kesengsaraannya. Namun, di tengah ingatan yang membebani itu, terjadi perubahan arah: “Tetapi, inilah yang kuperhatikan, sebab itu aku akan berharap” (ay. 21).
Penyair tidak tiba-tiba melupakan penderitaannya. Ia justru mulai mengingat hal lain di tengah penderitaan itu: kasih setia Tuhan yang tidak berkesudahan dan rahmat-Nya yang selalu baru setiap pagi (ay. 22-23). Ingatan akan kesetiaan Allah memberinya alasan untuk berharap kembali. Keadaannya belum pulih, tetapi ia mulai menemukan alasan untuk tidak menyerah pada keputusasaan.
Adakalanya, kita mulai menemukan harapan ketika mampu melihat bahwa penderitaan bukan satu-satunya hal yang membentuk kehidupan kita. Meski demikian, menyadari hal-hal yang masih dapat disyukuri tidak berarti rasa sakit langsung menghilang. Penyair pun kembali meratapi kehancuran dan penderitaan umat (ay. 40-48). Ia telah menemukan alasan untuk berharap, tetapi dukanya belum berakhir.
Sahabat Alkitab, kita tidak harus menyangkal kesedihan untuk dapat berharap. Kita boleh mengakui apa yang menyakitkan sambil mengingat bahwa penderitaan bukan satu-satunya kenyataan yang ada. Adakalanya, harapan tumbuh bukan karena keadaan telah berubah, melainkan karena di tengah keadaan yang belum berubah, kita menemukan kembali alasan untuk melangkah.
























