Yehezkiel adalah seorang imam yang hidup pada masa pergolakan Yehuda. Pada 597 SM, ia dibuang ke Babel bersama rombongan pertama orang Yehuda, ketika Yerusalem dan Bait Allah masih berdiri. Jauh dari tanah air dan lingkungan keagamaan yang membentuk kehidupannya, Yehezkiel harus menjalani hidup di negeri asing. Sekitar lima tahun kemudian, di tepi Sungai Kebar, ia menerima penglihatan tentang empat makhluk hidup dengan rupa yang tidak biasa (ay. 1-14). Di tanah pembuangan, ketika kehidupan lamanya tak lagi dapat dijalani, perjalanan kenabiannya justru dimulai.
Bagi umat Yehuda, pembuangan bukan sekadar kehilangan tempat tinggal. Tanah, Bait Allah, dan dinasti Daud merupakan bagian penting dari identitas serta keyakinan mereka akan penyertaan Allah. Jauh dari Yerusalem, membuat mereka terguncang dan bertanya: apakah Allah masih menyertai mereka di tanah asing? Bagaimana memahami janji Allah ketika kenyataan hidup tampak bertentangan dengan apa yang selama ini mereka yakini?
Pergumulan ini memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara tempat, ingatan, dan identitas. Yerusalem bukan sekadar kota yang ditinggalkan, melainkan bagian dari dunia yang selama ini mereka kenal. Ketika keterikatan itu terputus, yang terguncang bukan hanya kehidupan sehari-hari, tetapi juga cara mereka memahami diri sendiri dan hubungan mereka dengan Allah.
Kehilangan semacam ini mengguncang rasa aman dan keyakinan dasar seseorang tentang dunia. Ingatan tentang masa lalu membantu kita mempertahankan identitas dan rasa memiliki, tetapi sekaligus dapat mempertegas jarak antara kehidupan yang dirindukan dan kenyataan yang harus dijalani. Kita bukan hanya merindukan tempat yang telah ditinggalkan, melainkan juga kepastian dan makna yang dahulu kita temukan di dalamnya. Menariknya, di tengah keterasingan itu, Yehezkiel menerima penglihatan tentang Allah justru di Babel. Penglihatan tentang empat makhluk hidup yang bergerak di tengah kilatan api dan cahaya ini menjadi awal dari pewahyuan yang mengguncang pemahaman lama umat tentang kehadiran Allah. Ia tidak hanya dikenal melalui tempat yang mereka tinggalkan. Allah tetap dapat menyatakan diri-Nya di tanah asing, di tengah kehidupan yang tidak lagi berjalan seperti dahulu.
Sahabat Alkitab, ada kalanya perubahan hidup membuat kita merasa asing terhadap dunia sendiri. Kita merindukan masa ketika segala sesuatu terasa lebih pasti, sementara hari ini kita harus belajar menjalani kenyataan yang berbeda. Jika ada di antara kita yang sedang mengalami kehilangan, kita tidak perlu menyangkalnya atau memaksakan diri untuk segera pulih. Seperti Yehezkiel, kita pun bisa mengubah pandangan kita, ketika tempat yang dahulu kita sebut rumah tak lagi menjadi tempat pulang, mungkinkah kita tetap menjumpai Allah di tengah kehidupan yang kini terasa asing?
























