Mazmur: Sebagai Doa dan Renungan

Artikel | 14 Sep 2026

Mazmur: Sebagai Doa dan Renungan


Narasumber: Dr. Paskalis Edwin I Nyoman Paska
Editor: Vince Ellysabeth
 
Kitab Mazmur menempati tempat istimewa dalam kehidupan umat beriman. Ia merupakan kumpulan puisi, nyanyian, doa, sekaligus renungan yang memperlihatkan relasi manusia dengan Allah dalam seluruh kompleksitas kehidupan. Keistimewaan Mazmur tidak hanya terletak pada penggunaannya dalam ibadah. Mazmur menghadirkan dinamika iman yang khas: pengalaman hidup diolah dalam terang penyataan Allah, diungkapkan sebagai doa dan pujian, lalu diwariskan sebagai kesaksian iman yang kembali membentuk kehidupan umat.
 
Mazmur: Nyanyian, Doa, dan Hikmat
Dalam bahasa Ibrani, Kitab Mazmur disebut Sefer Tehilim. Sefer berarti “kitab”, sedangkan tehilim berarti nyanyian atau puji-pujian dan berkaitan dengan akar kata halal, yang berarti memuji. Dari akar kata itu dikenal ungkapan Hallelu-yah, yakni ajakan untuk memuji Yahweh. Dalam tradisi Yunani, Septuaginta, istilah tersebut diterjemahkan dengan psalmoi, yang menunjuk pada nyanyian dengan iringan musik. Kedua istilah ini memperlihatkan hubungan erat antara Mazmur, nyanyian, dan ibadah.
 
Namun, Mazmur tidak dapat dipahami hanya sebagai kitab puji-pujian. Di dalamnya terdapat doa, ratapan, nyanyian, bahkan kutukan. Sebagian berkaitan dengan kehidupan ibadah, sementara yang lain merupakan refleksi mendalam atas kehidupan manusia. Karena itu, Mazmur mempertemukan puisi, doa, dan hikmat. Sebagai bagian dari tradisi hikmat, Mazmur menolong umat merenungkan kehidupan dan menemukan kebijaksanaan untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah.
 
Karakter Mazmur sebagai puisi Ibrani juga penting diperhatikan. Permainan kata, paralelisme, simbol, dan berbagai gaya bahasa bukan sekadar pemanis, melainkan bagian dari cara teks menyampaikan makna. Pembacaan Mazmur karena itu menuntut perhatian terhadap bentuk dan latar belakangnya agar pembaca dapat menangkap kedalaman pengalaman iman yang diungkapkan pemazmur.
 
Mazmur sebagai Sekolah Doa
Doa dalam Mazmur tidak dapat direduksi menjadi permintaan kepada Allah. Di dalamnya terdapat pujian, syukur, dan permohonan yang saling berkaitan. Pujian merupakan tanggapan terhadap penyataan Allah; syukur adalah pengakuan atas kebaikan dan karya-Nya; sedangkan permohonan merupakan ungkapan kebutuhan manusia di hadapan Allah. Ketiganya sulit dipisahkan. Ketika manusia memuji Allah sebagai Pencipta, ia sekaligus bersyukur atas kehidupan. Ketika seseorang memohon pertolongan, ia mengakui bahwa Allah mampu menolong dan dapat dipercaya.
 
Karena itu, permohonan dalam Mazmur juga merupakan pengakuan iman. Ketika seseorang berseru kepada Tuhan, ia menyatakan kepercayaannya kepada Allah sebagai sumber keselamatan. Doa Mazmur tidak memisahkan antara memohon dan percaya. Permohonan lahir dari keyakinan bahwa manusia sedang berbicara kepada Allah yang berkuasa dan setia.
 
Dalam tradisi Israel, Mazmur digunakan sebagai buku doa dan nyanyian. Namun, tidak semua Mazmur secara eksplisit berbentuk doa. Beberapa teks lebih tampak sebagai refleksi hikmat, seperti Mazmur 1. Kenyataan ini menunjukkan bahwa Mazmur sebagai doa tidak hanya berarti mencari kalimat permohonan. Setiap Mazmur dapat menjadi kesaksian iman yang membawa pembacanya ke dalam percakapan dengan Allah.
 
Di sinilah Mazmur dapat disebut sebagai “sekolah doa.” Mazmur bukan hanya menyediakan kata-kata untuk berdoa, tetapi mengajarkan bagaimana manusia berdoa. Pengalaman menghadapi musuh, penderitaan, kegembiraan, keberhasilan, keluarga, lingkungan, dan alam dapat menjadi bahan doa. Doa tidak lahir dari kehidupan yang abstrak, tetapi dari pengalaman konkret manusia bersama Allah. Mazmur mengubah pengalaman menjadi doa, dan melalui doa, mengajar manusia melihat kembali pengalamannya dalam terang iman.
 
Mazmur 8 menunjukkan bagaimana pengamatan terhadap langit, bulan, bintang, alam, dan manusia dapat bermuara pada pengenalan akan Allah sebagai Pencipta. Demikian pula Mazmur 121 memperlihatkan bagaimana gunung menjadi titik tolak refleksi iman: pemazmur bertanya dari mana pertolongannya datang dan menemukan jawabannya dalam Tuhan, Pencipta langit dan bumi. Kehidupan dan alam dengan demikian dapat menjadi ruang untuk mengenali Allah.
 
Dari Perkataan Manusia Menjadi Sabda Tuhan?
Salah satu pertanyaan teologis penting mengenai Mazmur ialah bagaimana doa manusia dapat menjadi Sabda Tuhan. Mazmur jelas berisi kata-kata manusia. Para pemazmur memuji, mengeluh, bersyukur, memohon, dan mengungkapkan pergumulan mereka kepada Allah. Namun, justru dalam kesaksian iman itu Mazmur menjadi Sabda Tuhan. Pemazmur memberi kesaksian mengenai siapa Allah dan apa yang menjadi kehendak-Nya berdasarkan pengalaman iman yang konkret. Dalam kesaksian itu, pengalaman manusia tidak menggantikan penyataan Allah, melainkan menjadi ruang tempat umat belajar mengenali dan menanggapi Allah.
 
Di sini terdapat dinamika yang khas: Mazmur adalah perkataan manusia kepada Allah sekaligus Sabda Tuhan yang berbicara kepada manusia. Karakter manusiawi Mazmur tidak menghilang ketika ia menjadi bagian dari Kitab Suci. Sebaliknya, pengalaman dan kesaksian iman manusia menjadi sarana untuk menyatakan siapa Allah. Ketika umat mendoakan Mazmur, umat menggunakan kata-kata yang sekaligus merupakan Sabda Tuhan untuk berbicara kepada Tuhan.
 
Doa karena itu dapat dipahami sebagai proses belajar “bahasa Tuhan”. Melalui Mazmur, umat belajar berbicara kepada Allah dengan bahasa yang dibentuk oleh Kitab Suci. Pengulangan Mazmur dalam doa dan ibadah perlahan membentuk nilai, cara berpikir, dan orientasi hidup. Kekuatan Mazmur sebagai doa bukan terutama terletak pada formula kata-katanya, melainkan pada kemampuannya membentuk manusia untuk membawa kehidupannya ke dalam horizon iman dan kehendak Allah.
 
Untuk menjadikan Mazmur sebagai doa pribadi, pembaca perlu memasuki situasi pemazmur dan menemukan titik temu dengan kehidupannya sendiri. Pemahaman mengenai latar belakang, bentuk puisi, dan simbol Mazmur membantu proses tersebut. Bahkan ketika sebuah Mazmur tidak langsung mencerminkan pengalaman pribadi, umat tetap dapat mendoakannya sebagai bagian dari doa komunitas iman.
 
Mazmur 3 memperlihatkan dinamika ini. Dalam konteks Daud yang melarikan diri dari Absalom, pemazmur berada di tengah ancaman dan menghadapi serangan yang mengguncang keyakinannya kepada Allah. Namun, ia mengakui Tuhan sebagai perisai dan penopang hidupnya. Ia dapat berbaring dan tidur karena percaya bahwa Tuhan menopangnya. Doa tidak selalu langsung menghilangkan ancaman, tetapi dapat mengubah cara manusia menghadapi ancaman. Kepercayaan kepada Allah memungkinkan manusia tetap teguh ketika situasi belum berubah.
 
Mazmur sebagai Renungan
Sebagai Sabda Tuhan, Mazmur juga merupakan bahan renungan. Renungan bukan sekadar membaca peristiwa di permukaan, melainkan mendalaminya untuk menemukan kehendak Allah dalam pengalaman kehidupan. Doa dan renungan karena itu tidak dapat dipisahkan. Manusia membawa pengalamannya kepada Allah dalam doa, lalu melalui doa belajar melihat pengalaman tersebut dengan perspektif iman. Sebaliknya, pemahaman yang diperoleh melalui perenungan kembali dibawa ke dalam doa. Mazmur bergerak dalam lingkaran pengalaman, refleksi, doa, dan pembentukan hidup.
 
Dalam menjadikan Mazmur sebagai renungan, umat perlu membaca dengan kerendahan hati dan menyimpan firman Tuhan dalam hati. Pengulangan Mazmur melalui doa, nyanyian, dan ibadah membuat firman itu perlahan menjadi bagian dari kehidupan dan menuntun manusia dalam berbagai situasi.
 
Mazmur 1 memperlihatkan bahwa merenungkan firman bukan sekadar memperoleh informasi. Taurat Tuhan terus diingat dan direnungkan sehingga membentuk tindakan dan kehidupan. Sementara itu, Mazmur 73 menunjukkan renungan yang lahir dari pergumulan. Asaf melihat orang fasik tampaknya hidup makmur, sementara orang benar mengalami kesulitan. Ia bahkan hampir tergelincir karena iri hati. Namun, melalui refleksi iman, ia memperoleh perspektif baru dan sampai pada pengakuan bahwa Allah tetap baik. Mazmur 73 memperlihatkan bahwa renungan bukan pelarian dari realitas, melainkan pergulatan untuk membaca realitas secara lebih mendalam di hadapan Allah.
 
Menjadikan Hidup sebagai Doa
Pada akhirnya, Mazmur mengajarkan bahwa kehidupan itu sendiri dapat menjadi sumber doa dan renungan. Pemazmur mengalami penderitaan, ancaman, pertolongan, dan pembebasan, lalu mengolah semuanya sebagai kesaksian iman. Pengalaman tidak berhenti sebagai peristiwa, tetapi ditafsirkan dalam iman; tafsiran itu menjadi doa; dan doa kemudian membentuk cara hidup.
 
Membaca Mazmur, dengan demikian, bukan sekadar mencari arti sebuah teks, melainkan bertanya bagaimana teks tersebut membentuk cara kita melihat Allah, diri sendiri, sesama, alam, dan kehidupan. Di dalam Mazmur, manusia belajar berbicara dengan Allah, bukan sekadar berbicara tentang Allah. 
 
Artikel ini disadur dari Seminar Alkitab. Tonton versi video lengkapnya di YouTube LAI: https://www.youtube.com/live/rCL3ROyQbko?si=OONxKFkDiJvNmGYh
 
 
Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia