Sebuah buku berjudul Sacred Pathways karya Gary Thomas, seorang penulis Kristen, menawarkan sembilan bentuk spiritualitas manusia dengan segala karakteristiknya yang khas. Melalui buku ini, Thomas sekaligus mengajak umat Kristen untuk memiliki kesadaran akan spiritualitasnya yang akan membantunya dalam mengalami pertumbuhan iman di dalam TUHAN. Penggunaan sembilan bentuk spiritualitas yang ia lakukan seperti naturalis, sensasional, tradisionalis, asketik, aktivis, pemerhati, antusiastik, kontemplatif, dan intelektualis, tidak bermaksud mengkotak-kotakan manusia ke dalam ruang-ruang tersebut karena seseorang dapat memiliki beberapa bentuk spiritualitas dengan perbedaan tingkat dominan di antaranya. Intinya, kesembilan bentuk tersebut ingin menunjukkan kekhasan seorang manusia dalam menjalin hubungan yang intim dengan TUHAN.
Keluaran 33:7-11 sedang menunjukkan cara Musa untuk menjalni hubungan yang intim dengan TUHAN. Cara yang ia gunakan adalah dengan menciptakan ‘kesendirian’ yang dapat ia nikmati bersama dengan TUHAN. Itulah mengapa Musa mendirikan kemah pertemuan di luar perkemahan orang Israel. Pada tahap ini kita perlu memahami bahwa kemah pertemuan yang dimaksud dalam perikop ini bukanlah Kemah Suci yang baru dibangun beberapa waktu berikutnya. Artinya, kemah ini memang dengan sengaja Musa ciptakan untuk membantu ia mengalami keintiman relasi dengan TUHAN sehingga ia dapat semakin efektif mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin bangsa Israel.
Praktik spiritualitas Musa yang muncul dalam perikop ini tidak menjadi instruksi bagi setiap umat TUHAN untuk melakukan hal serupa, yakni setiap orang harus membuat sebuah tempat khusus untuk dirinya berdoa. Justru, nilai utama yang muncul dalam praktik ini adalah pentingnya upaya yang secara maksimal dilakukan untuk membangun keintiman relasi dengan TUHAN. Setiap umat TUHAN perlu mengupayakan hal ini secara serius, penuh komitmen dan konsistensi. Kita tidak dapat berharapan mengalami pertumbuhan iman tanpa disertai upaya nyata untuk mewujudkannya. Setiap kita tentu punya karakter dan kekhasan bentuk spiritualitas masing-masing, namun tujuan utama dari seluruhnya adalah mengalami keintiman yang semakin efektif di dalam dan bersama TUHAN.