Zakharia menggunakan berbagai objek yang melambangkan kemegahan atau kekuatan, seperti pohon-pohon aras dari Libanon dan pohon-pohon tarbantin Basan. Tentu saja, hal ini ada kaitannya dengan kondisi yang dialami oleh bangsa Israel pada saat itu yang mendapatkan banyak kemalangan, terlepas dari segala bentuk kesalahan yang mereka lakukan di hadapan Tuhan. Meski demikian, teguran keras yang disampaikan oleh Zakharia ini telah menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan kebanggaan atas kemegahan yang bertentangan dengan nilai kebenaran-Nya bertahan.
Sebagai umat Tuhan, kita perlu memahami bahwa segala bentuk kemegahan yang dirayakan dan dibanggakan, padahal dihasilkan dari cara-cara yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, adalah hal semu yang tidak akan bertahan di hadapan-Nya. Oleh sebab itu, sungguh disayangkan jika masih ada umat yang masih mencoba untuk mencari keuntungan melalui cara-cara yang bertentangan dengan firman Tuhan, terlebih lagi ia bermegah dengan penuh kebanggaan di atasnya. Ia menyangka bahwa kemegahan itu adalah tetap dan aman untuk dibanggakan, padahal semuanya adalah semu yang sarat dengan kesementaraan.
Sahabat Alkitab, firman ini tidak sekadar menjadi teguran bagi para pihak yang ribuan tahun lalu berlaku congkak di hadapan Tuhan pada saat mereka berbangga atas kemegahan yang semu. Namun, firman ini juga perlu menjadi cermin evaluasi bagi setiap umat Tuhan untuk menghindari segala bentuk kepongahan. Jangan sampai kita justru terlena oleh segala bentuk kemegahan yang kita anggap nikmat untuk terus dipertahankan, padahal semuanya justru bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan.