Ada masa ketika seseorang merasa sungguh terasing, meskipun kehidupan di sekitarnya terus berjalan tanpa jeda. Kesibukan tetap berlangsung, suara tetap ramai, tetapi batin diliputi kesunyian yang sulit dijelaskan. Banyak orang pada zaman ini memikul pengalaman serupa: merasa tidak diperhatikan, tidak dipedulikan, dan perlahan kehilangan tenaga untuk menyuarakan luka yang dialami. Dari ruang keterasingan inilah Mazmur 142 muncul, sebagai doa yang lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari tekanan hidup yang menyesakkan.
Mazmur ini termasuk ratapan pribadi yang secara tradisi dikaitkan dengan masa pelarian Daud dari kejaran Saul. Gua menjadi tempat perlindungan yang nyata, sekaligus simbol kehidupan yang terputus dari rasa aman dan relasi. Pemazmur berseru kepada Tuhan dengan jeritan yang lahir dari keputusasaan. Ketika napas hidupnya melemah dan jalan di depannya terasa penuh jebakan, ia mengungkapkan keluhan tanpa topeng: tidak ada seorang pun yang memedulikan nasibnya. Namun di tengah pengakuan pahit itu, iman justru menemukan gemanya. Pemazmur menyatakan bahwa Tuhan adalah tempat perlindungannya di negeri orang-orang hidup, sebuah perlindungan yang bukan hanya menenangkan batin, tetapi menyediakan ruang aman yang nyata bagi hidup yang terancam.
Sahabat Alkitab, kesendirian manusia tidak pernah berarti ketiadaan Allah. Di ruang tersembunyi, di tempat gelap, Tuhan tetap hadir sebagai tempat berlindung dan menjadi bagian dalam hidup kita. Maka marilah kita berani membawa seluruh rasa sunyi itu ke hadapan-Nya, sambil belajar menjadi sesama yang menghadirkan kehadiran Allah bagi mereka yang merasa ditinggalkan.
























