Menjadi orang benar dan jujur seringkali tidak mudah di negara ini. Seringkali kita dipaksa untuk masuk ke dalam skema-skema ketidakjujuran hanya untuk bertahan dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka yang menolak untuk tunduk pada ketidakbenaran dan memelihara nuraninya, pasti merasa resah atas situasi tersebut. Namun tidak dipungkiri bahwa seringkali rasanya begitu sulit dan keadaan memaksa kita untuk berpaling dari ketetapan-Nya. Dapatkah kita bertahan untuk tetap berada di jalan-Nya dan memegang teguh kebenaran-Nya.
Itulah yang juga menjadi keresahan sang pemazmur dalam bacaan kita kali ini. Dengan sungguh pemazmur memohon agar Tuhan mendengar-Nya, “pasanglah telinga, ketika aku berseru kepada-Mu!” Demikian permintaannya yang mengekspresikan kebutuhan terdalam dari sang pemazmur. Apakah yang sesungguhnya diminta oleh pemazmur? Ia meminta agar Tuhan menjaganya agar senantiasa dapat mempertahankan apa yang benar dalam perkataan serta tindakan. Hati manusia yang begitu rapuh seringkali menjadi sarang tempat bersemainya kejahatan, maka pemazmur meminta Allah untuk mengawasi hatinya (ay. 4)
Pemazmur sungguh-sungguh mengharapkan agar ia tidak terjerumus kepada kefasikan. Ia begitu khawatir terjatuh ke dalam kejahatan dan melakukan perbuatan-perbuatan fasik bersama dengan pelaku kejahatan. Meskipun mungkin hidup orang fasik begitu nyaman dan penuh dengan “makanan enak”, pemazmur tidak menghendaki untuk ambil bagian dalam ketidakbenaran itu. Sebuah prinsip yang hendak diajarkannya kepada orang percaya di sepanjang zaman. Ia sungguh berharap agar orang-orang fasik mendapatkan ganjarannya. Sementara di sisi lainnya pemazmur ingin agar seluruh hidup dan pandangan-Nya hanya tertuju pada Allah semata. Perlindungan dan penyertaan Allah adalah yang diharapkannya dalam kehidupan. Pencobaan boleh datang silih berganti tetapi hanya Allah yang dapat menguatkan hatinya.
Sahabat Alkitab, marilah bertahan dan berjuang untuk senantiasa mengerjakan apa yang benar bagi-Nya. Tuhan menginginkan agar kita hidup dalam kebenaran firman-Nya, bahkan sekalipun pilihan tersebut “ditertawakan” oleh mereka yang memilih tinggal dalam kefasikan serta kejahatan. Hal tersebut tentu saja bukanlah hal yang mudah, tetapi kita bisa meneladani sang pemazmur untuk meminta penguatan serta perlindungan hanya kepada Allah semata. Hanya dalam Tuhanlah kita memperoleh kekuatan serta pertolongan.

























