Bayangkan ketika kita terjebak dalam kemacetan panjang sepulang kerja. Klakson bersahut-sahutan, kendaraan nyaris tidak bergerak, dan waktu terasa terbuang sia-sia. Dalam situasi seperti itu, ada dua kemungkinan respons: larut dalam kemarahan, atau memilih untuk tetap tenang. Kemacetan itu sendiri tidak dapat diubah, tetapi respons terhadapnya sepenuhnya berada dalam kendali diri kita. Sering kali, bukan situasi yang menghancurkan kedamaian kita, melainkan reaksi kita terhadap situasi tersebut. Di sinilah seni menguasai diri menjadi penentu arah hidup kita.
Amsal 15:18 berkata, “Pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang panjang sabar memadamkan perbantahan.” Dalam bahasa Ibrani, kata untuk ‘pemarah’ atau ’ish ḥēmāh, secara harfiah berarti ‘laki-laki panas’, seseorang yang mudah menyala oleh emosi. Ia cepat mengomunikasikan kemarahannya, sehingga memicu konflik dan memperbesar luka dalam relasi. Kemarahannya bukan hanya merusak dirinya sendiri, tetapi juga menciptakan lingkaran pertengkaran di sekitarnya. Sebaliknya, orang yang panjang sabar memiliki kekuatan yang berbeda. Ia tidak mudah tersulut, dan justru mampu meredakan konflik. Kesabarannya menjadi seperti air yang memadamkan api, memulihkan suasana yang hampir terbakar oleh emosi.
Pengajaran ini sangat penting dalam kehidupan keluarga maupun komunitas. Harmoni tidak tercipta karena tidak adanya perbedaan, melainkan karena adanya kedewasaan dalam mengelola emosi. Manusia sering kali bereaksi bukan terhadap peristiwa itu sendiri, tetapi terhadap penilaiannya atas peristiwa tersebut. Ketika seseorang merasa tersinggung oleh kritik atau tekanan, reaksi emosionalnya dapat memperburuk keadaan. Namun, ketika ia belajar mengendalikan perspektifnya, ia menemukan ketenangan. Menguasai diri bukan berarti menekan emosi, melainkan memilih respons yang bijak daripada reaksi yang impulsif.
Sahabat Alkitab, Amsal hari ini mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada meluapkan kemarahan hingga kita merasa ‘ditakuti’ oleh orang di sekitar kita, melainkan pada kemampuan menahan dan mengarahkan emosi dengan bijaksana. Setiap hari, kita dihadapkan pada situasi yang tidak dapat kita kendalikan, tetapi kita selalu memiliki pilihan atas respons kita. Ketika kita memilih kesabaran, kita sedang menjaga damai, bukan hanya di sekitar kita, tetapi juga di dalam diri kita sendiri. Menguasai diri adalah sebuah seni rohani, di mana kita belajar melepaskan dorongan reaktif kita dan mempercayakan kendali hidup kepada Tuhan, sehingga langkah kita dipimpin oleh hikmat-Nya.
























