Dalam berbagai tradisi pemikiran dan kebudayaan di dunia, kebahagiaan tidak hanya dihasilkan dari stimulus-stimulus yang terjadi di luar diri kita. Melainkan melalui kemampuan untuk mengolah akal budi, menyelaraskan hati, serta mengendalikan diri. Banyak orang mengupayakannya dengan beragam latihan pengendalian diri. Namun bacaan kita hari ini memperlihatkan bahwa pengendalian diri tersebut datang melalui hidup yang diarahkan pada hikmat serta kebijaksanaan Tuhan.
Dua ayat dalam pasal 20 menunjukkan ajakan kepada umat untuk mengendalikan kata-kata yang seringkali tidak terkendali. Kata perbantahan pada ayat 3 menunjukkan hal tersebut. Konflik adalah bagian yang tidak terhindarkan di kehidupan sehari-hari. Namun konflik seringkali tidak terkendali saat satu atau dua belah pihak tidak dapat menahan dirinya. Salah satu tandanya adalah melalui kata-kata yang dilontarkan dalam semangat untuk mengalahkan pihak lain serta menonjolkan ego pribadi. Perbantahan itulah awal dari pertengkaran tiada henti. Menurut bacaan kita, hal tersebut merupakan tanda-tanda orang yang bodoh dan tidak tunduk pada ajaran hikmat.
Relasi juga dapat rusak saat pergunjingan terjadi. Membicarakan orang lain dengan niat untuk menjatuhkan dan menjelek-jelekannya. Dengan tegas dikatakan dalam bacaan kita untuk tidak bergaul dengan orang yang bocor mulut. Kebijaksanaan terjadi saat seseorang bisa mengendalikan diri dari godaan untuk bergunjing tentang orang lain.
Hikmat Tuhan sesungguhnya menuntun kita untuk menjadi pribadi yang utuh. Memiliki pengetahuan, kebijaksanaan, serta pengendalian diri yang secara paling mendasar diwujudkan melalui pengendalian kata-kata. Bukankah seringkali kita terjebak dalam situasi-situasi yang sulit karena kata-kata yang secara sadar ataupun tidak sadar kita ucapkan. Maka marilah hidup dalam hikmat serta kebijaksanaan Tuhan senantiasa.
























