Belakangan kita sering melihat fenomena yang disebut tone deaf: seseorang berbicara tentang keberhasilan, kemewahan, atau pencapaian pribadi tanpa menyadari penderitaan yang sedang dialami orang lain. Dalam ruang publik, sikap seperti ini sering muncul pada tokoh berpengaruh yang tampak tidak peka terhadap realitas sosial di sekitarnya. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa kecerdasan atau status tidak selalu berjalan bersama dengan kepekaan hati.
Kitab Kitab Amsal 29:1-13 menyoroti perbedaan mendasar antara orang benar dan orang fasik. Ayat 7 menyatakan bahwa “Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak memahaminya.” Kata “mengetahui” dalam bahasa Ibrani tidak sekadar menunjuk pada pengetahuan intelektual, melainkan keterlibatan pribadi, sebuah kepedulian yang mendorong seseorang untuk memperhatikan nasib orang yang tidak berdaya. Sebaliknya, orang fasik digambarkan sebagai mereka yang ‘tidak memahami’ (lo-yabîn). Ketidakmengertian ini bukan karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena hati yang tidak peka terhadap penderitaan sesama atau bisa juga disebut kurang empati.
Empati merupakan kemampuan moral yang membentuk cara kita memandang dunia. Tanpa empati, seseorang mudah terjebak dalam kepentingan diri sendiri dan kehilangan kepekaan terhadap ketidakadilan. Sebaliknya, empati menolong kita melihat bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama, sebagaimana diajarkan Alkitab bahwa semua diciptakan menurut gambar-Nya.
Sahabat Alkitab, hikmat sejati tidak hanya terlihat dalam kata-kata yang bijak, tetapi dalam kepekaan terhadap mereka yang lemah. Orang berhikmat tidak menutup mata terhadap penderitaan di sekitarnya. Ia bersedia meluangkan waktu, memahami keadaan orang lain, dan berdiri di pihak keadilan. Dengan demikian, kepedulian kepada yang lemah menjadi tanda bahwa hikmat Allah benar-benar bekerja di dalam hati kita.
























