Manusia membangun peradabannya dalam dambaan akan kesejahteraan dan ketertiban. Semuanya itu hanya dapat tercapai apabila keadilan betul-betul ditegakkan di dalam dunia. Sayangnya di setiap peradaban yang bergulir selalu saja ada upaya untuk menyelewengkan hukum. Membuat yang benar menjadi salah, atau yang salah menjadi benar. Tergantung kepentingan siapa yang diusung. Maka dambaan akan tegaknya keadilan menjadi sebuah pengharapan masa depan yang terus dinantikan oleh umat manusia.
Bacaan kita kali ini menyoroti dua fenomena purba yang sayangnya masih berlangsung hingga saat ini yakni ketidakadilan yang justru dilakukan oleh mereka yang berwenang (3:16) dan penindasan yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan (4:1). Merespons ketidakadilan tersebut pengkhotbah mengajukan sebuah petisi abadi kepada Allah yakni bahwa Ia sendirilah yang akan mengadili orang yang benar dan orang yang jahat karena untuk segala sesuatu ada waktunya. Jika manusia tidak dapat mengadili dengan benar, maka Allah akan menunjukkan kebenaran-Nya. Menurut tradisi pemahaman keyahudian, keadilan, menempati konsep utama dalam memandang relasi Allah dengan manusia maupun manusia terhadap sesamanya. Keadilan dan kebenaran adalah sifat Tuhan yang dapat dilihat serta dirasakan, maka hukum-Nya pun adil dan benar.
Manusia merasa sangat berkuasa sehingga bisa memanipulasi kebenaran dan keadilan. Padahal menurut pengkhotbah, manusia tak ubahnya hewan. Bukan dalam arti status dan keberadaannya, melainkan pada kesamaan aktivitas hewan-hewan itu terutama hewan ternak yang melakukan pekerjaannya serupa manusia yang pekerjaan, usaha, serta jerih payahnya juga tanpa makna dan tujuan. Maka yang dapat dilakukan manusia adalah melakukan dengan sebaik-baiknya pekerjaan yang dilakukannya. Jika ia mendapat tanggung jawab untuk mengadili dan menegakkan hukum maka kerjakanlah dengan baik.
Sahabat Alkitab, marilah hidup dengan melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Meskipun seringkali kita masih berjuang untuk mencari makna akan apa yang kita lakukan. Dalam logika yang sederhana itu turut membantu mengentaskan perjuangan dan mewujudnyatakan keadilan. Mereka yang memang telah ditugaskan untuk mengadili perkara dengan baik, akan terus berjuang untuk mengadili berlandaskan kebenaran serta keadilan. Hal tersebut semata-mata karena mereka melakukan apa yang menjadi tugas serta tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Sayangnya banyak orang tersesat karena keserakahan mereka sehingga melakukan segala cara untuk memperoleh keuntungan termasuk dengan menyelewengkan tugas serta tanggung jawab mereka.
























