Kehidupan seringkali berlalu dengan begitu cepat dan tidak menyisakan kita sedikit ruang untuk merefleksikan kehidupan yang telah kita lalui. Mungkin dalam kilasan balik itu kita akan melihat luka, kemudian derita dan pergumulan, kadangkala sukacita datang untuk sedikit menghibur tetapi kita diajak untuk berjuang kembali. Namun sebagai orang percaya kita yakin bahwa jalan apapun yang tengah kita tempuh, selalu ada Tuhan yang hadir dan membimbing kita. Seharusnya itulah yang betul-betul kita hayati.
Setelah mengisahkan berbagai krisis dan penghukuman yang akan terjadi, Yesaya mulai menampilkan kesudahan dari segala hal berat yang akan menimpa Yehuda. Penderitaan itu telah mencapai titik puncaknya. Seluruh elemen masyarakat ikut terdampak, bahkan hingga kepada wanita-wanita yang telah ditinggalkan oleh para suami mereka. Seorang laki-laki menjadi langka di kota. “Tujuh perempuan” yang disebut di ayat 1 agaknya para janda yang suaminya telah gugur dalam perang. Seorang pria dijadikan obyek rebutan para janda yang demikian. Penggambaran di ayat satu ini harus kita lihat melalui konteks zaman itu. Seorang perempuan yang hidup tanpa suami adalah malapetaka tersendiri. Mereka hidup tanpa perlindungan dan menjadi mudah menjadi korban segala macam kejahatan. “Namamu boleh kami pakai sebagai nama kami,” belum tentu menjadi istri, bisa saja diadopsi atau menjadi budaknya. Ayat ini hendak menggambarkan bahwa putri-putri Sion telah sangat direndahkan tetapi masih diberi ruang untuk hidup dan harapannya adalah menjalani pertobatan.
Nada suram tiba-tiba berganti di ayat 2. Tunas muda akan ditumbuhkan Tuhan dan menjadi indah serta mulia, metafora tersebut untuk menjelaskan mengenai karya penyelamatan Allah atas Israel telah dimulai. Penderitaan yang mereka alami tidak hanya sebagai konsekuensi perbuatan mereka melainkan bagian dari proses penyucian umat-Nya sehingga Israel belajar untuk kembali menaati Allah Sang Sumber Kehidupan. Ada pertumbuhan baru dan harapan dari Tuhan atas tanah itu serta penduduknya. Allah seolah-olah melakukan kembali penciptaan-Nya seperti yang dahulu dikerjakan atas semesta. Itu berarti proses Allah mencipta dan mencintai umat-Nya sesungguhnya tidak pernah berhenti.
Sahabat Alkitab, marilah kita hidup berlandaskan pengharapan atas kasih serta tuntunan Allah. Hidup mungkin seringkali berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tetapi janganlah meragukan kasih serta penyertaan-Nya. Peristiwa apapun yang terjadi dalam hidup kita, dihadirkan-Nya untuk memberikan didikan kepada orang yang mengasihi-Nya. Pemulihan Allah terjadi bagi setiap orang yang menantikan pengharapan-Nya serta merendahkan hati dengan seutuhnya di hadapan Allah.
























