Di tengah dunia yang bergerak cepat, kabar tentang penderitaan manusia datang silih berganti. Kita mendengar tentang mereka yang kehilangan rumah, yang harus mengungsi tanpa sempat menoleh ke belakang, tentang kota-kota yang runtuh, dan kehidupan yang tercerai-berai oleh bencana maupun pergolakan. Semua itu hadir begitu dekat, namun juga begitu cepat berlalu seolah duka pun kini memiliki tenggat waktu. Dan perlahan, tanpa kita sadari, hati kita belajar cara baru untuk bertahan: melihat tanpa terlalu merasa, mengetahui tanpa terlalu terlibat, mendengar tanpa perlu ikut menangis. Dunia menjadi penuh suara, tetapi semakin sunyi belarasa.
Di tengah suasana seperti itulah Yesaya 15:1-9 berbicara. Ini adalah ratapan atas Moab. Dalam sejarahnya, Moab bukanlah bangsa yang sepenuhnya asing bagi Israel. Alkitab menelusuri mereka sebagai keturunan Lot, keponakan Abraham. Artinya, mereka adalah “kerabat jauh”, bukan orang dalam lingkaran Israel, tetapi juga bukan sepenuhnya orang luar. Namun dalam perjalanan sejarah, relasi itu berubah menjadi ketegangan, konflik, dan permusuhan yang panjang.
Justru di titik inilah ratapan ini menjadi semakin tajam: yang menangis di sini bukan hanya untuk “orang lain,” tetapi untuk mereka yang pernah berada di garis kedekatan, tapi kini terpisah oleh sejarah dan luka. Nama demi nama disebut: Ar-Moab, Dibon, Nebo, Zoar. Kota-kota itu tidak lagi berdiri sebagai tempat hidup, melainkan sebagai jejak reruntuhan. Orang-orang keluar dari rumah mereka dengan air mata, membawa duka yang tidak sempat selesai. Rambut dicukur, suara tangis memenuhi jalan-jalan, dan bumi seperti ikut menahan napas atas kehancuran yang terjadi. Namun yang paling menyentuh bukan hanya kehancuran Moab itu sendiri, melainkan hati yang meratap di dalamnya. Yesaya tidak berdiri sebagai pengamat yang jauh, tetapi sebagai jiwa yang ikut terluka: “Hatiku menjerit karena Moab.” Di sini, firman tidak hanya berbicara tentang bangsa, tetapi tentang belarasa, tentang hati yang masih sanggup berduka bagi yang lain. Sebab belarasa dalam Alkitab tidak dibatasi oleh garis identitas. Ia tidak berhenti pada “kita” dan “mereka.” Ia bahkan melampaui sejarah permusuhan dan jarak sosial. Justru di dalam ratapan ini, kita belajar bahwa penderitaan manusia tidak pernah menjadi milik satu kelompok saja; ia adalah bahasa yang sama yang dipahami oleh langit. Maka belarasa bukan sekadar perasaan, melainkan anugerah yang perlu dijaga.
Sahabat Alkitab, belarasa adalah latihan rohani untuk tetap hadir di sisi mereka yang terluka, meskipun mereka bukan bagian dari lingkaran kita. Sebab melalui air mata yang tulus, kita diingatkan kembali akan kemanusiaan yang Allah letakkan dalam diri kita. Kiranya Tuhan memelihara hati kita agar tidak mengeras oleh zaman, melainkan tetap lembut dan peka. Sehingga ketika dunia menangis, kita tidak sekedar menjadi penonton, tetapi hadir sebagai sesama yang turut meratap dan mengasihi.

























