Manusia cenderung lebih sibuk dengan apa yang tampak di luar. Citra dirinya dipoles sedemikian rupa, tetapi melupakan hakikat dari yang dikerjakannya. Apalagi pada masa kini saat sosial media menjadi penentu tingkah laku kita. Rasa-rasanya segala yang kita lakukan hanya demi terlihat baik dan bukan menjadi baik pada dirinya sendiri.
Inilah yang juga dikemukakan Allah dalam nubuatan Yesaya. Israel akan segera mengalami konsekuensi atas perbuatannya. Namun mengulangi pola-pola sebelumnya, berita tentang penghukuman akan selalu dibarengi dengan warta pemulihan atau didikan Allah. Pada ayat 1-4, Allah akan menegakkan keadilan dan menghukum Israel. Sementara musuh-musuh Israel juga akan dibinasakan Allah, hal tersebut berarti bahwa penghukuman Israel adalah bagian dari didikan Allah.
Sayangnya bangsa Israel tidak juga jera. Mereka tidak lagi mengarahkan kehidupan mereka terhadap tuntunan dan hikmat Allah. Ibadah mereka menjadi kosong. Allah berkata, “..bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, sedangkan hatinya menjauh dari-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan.” Hal itu adalah masalah tersendiri. Mereka memang tetap beribadah, tetapi hanya sekadar upaya untuk terlihat baik.
Sahabat Alkitab, marilah kita datang ke hadirat Allah melalui segala kata, karya, dan tindakan kita yang dipersembahkan kepada-Nya. Ibadah akan menjadi ritual tidak bermakna, jika kita melakukannya hanya sebagai formalitas dan bukan sembah bakti yang tulus kepada Allah. Maka dari itu hendaklah kita hidup dalam didikan-Nya senantiasa.
























