Pernahkah kita menyaksikan sebuah video yang viral di media sosial, seperti seseorang mengalami kecelakaan di jalan atau seorang anak menjadi korban perundungan? Namun seringkali yang mengusik bukan peristiwa itu sendiri, melainkan reaksi orang-orang di sekitarnya. Alih-alih menolong, mereka justru merekam kejadian tersebut. Hanya sedikit yang benar-benar bergerak untuk menolong. Fenomena ini dikenal sebagai by stander effect, kecenderungan seseorang untuk tidak bertindak ketika ada banyak orang lain di sekitarnya.
Di tengah dunia digital, kita terus terpapar penderitaan hingga kepekaan kita perlahan terkikis. Pertanyaannya, apakah sikap itu juga mulai kita bawa dalam kehidupan nyata?
Yesaya 33 merupakan bagian terakhir dari rangkaian nubuat “sungguh celaka” yang dimulai sejak pasal 28. Pasal ini memiliki nuansa liturgis, kemungkinan digunakan dalam ibadah umat untuk mengenang pembebasan Tuhan atas Yehuda dari penindasan dan ancaman bangsa-bangsa penindas. Menariknya, identitas musuh dalam pasal ini tidak disebutkan secara jelas. Bisa jadi Asyur, Babel, atau kekuatan lain yang pernah menindas umat Tuhan. Namun ketidakjelasan ini justru membuat pesannya melampaui satu peristiwa sejarah tertentu. Musuh menjadi simbol dari setiap kuasa yang membangun kejayaannya di atas penderitaan orang lain.
Pasal ini dibuka dengan seruan tegas, “Sungguh celaka engkau, hai perusak.” Musuh digambarkan sebagai perusak dan penipu. Ia menghancurkan, mengkhianati, dan mengeruk keuntungan dari kelemahan orang lain. Dalam bahasa masa kini, ia melambangkan sistem yang menghalalkan segala cara demi kekuasaan dan keuntungan. Namun Yesaya menegaskan bahwa kekuasaan seperti itu tidak akan bertahan selamanya, karena Allah akan menyatakan keadilan-Nya. Di sisi lain, teks ini juga memperlihatkan realitas hidup di tengah penindasan. Ketika kekerasan menjadi bagian dari keseharian, manusia dapat menjadi mati rasa. Ketika ancaman berlangsung terus-menerus, orang akan memilih diam demi keselamatannya. Apatisme perlahan menjadi cara bertahan hidup. Bukankah yang demikian mulai banyak terjadi?
Karena itu, pesan Yesaya menjadi sangat relevan bagi kehidupan kita. Ia mengingatkan bahwa mereka yang dapat berdiri di hadapan Allah adalah orang-orang yang tetap hidup dalam kebenaran, memelihara integritas, dan menjaga kepekaan hati di tengah dunia yang mulai kehilangan arah.
Sahabat Alkitab, iman tidak diukur dari seberapa banyak kita mengetahui kebenaran, melainkan dari keberanian untuk hidup di dalamnya. Kepedulian bukan sekadar perasaan iba sesaat, melainkan keputusan untuk tetap menjadi manusia di tengah budaya yang mendorong kita untuk menjadi acuh tak acuh. Kepedulian adalah keberanian untuk menolak ketidakadilan, berkata benar walaupun kebohongan tampak menguntungkan, dan hadir bagi sesama sekalipun akan merepotkan kita.

























