Seringkali ketika kita berdoa, kita datang kepada Tuhan dengan harapan tertentu tentang bagaimana Ia akan bekerja. Kita membayangkan jalan keluar, cara penyelesaian, bahkan perubahan yang sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Namun perjalanan iman sering mengajarkan bahwa Tuhan memang menjawab doa, tetapi tidak selalu dengan cara yang dapat kita prediksi.
Setelah Hizkia membentangkan surat ancaman Asyur di hadapan Tuhan, Allah menjawab melalui Nabi Yesaya. Menariknya, Tuhan tidak memulai dengan memberikan strategi perang kepada Yehuda. Tuhan justru berbicara kepada Asyur dan membongkar kesombongan mereka, “Siapakah yang engkau hina dan hujat?”.
Masalah Asyur bukan hanya karena mereka memiliki kekuatan militer yang besar, tetapi karena mereka menganggap kekuatan itu sebagai bukti bahwa tidak ada kuasa yang mampu menghalangi mereka. Mereka merasa kemenangan mereka adalah hasil dari kemampuan mereka sendiri. Namun Tuhan menunjukkan bahwa kekuasaan manusia tidak pernah menjadi penentu terakhir sejarah. Yerusalem digambarkan secara puitis sebagai “Putri Sion, anak dara” yang menggelengkan kepala terhadap Asyur. Sebuah gambaran yang penuh ironi: kota kecil yang tampak lemah dapat berdiri menghadapi imperium besar, bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi karena Allah ada di pihak mereka.
Cara Tuhan menjawab juga melampaui bayangan manusia. Yerusalem tidak diselamatkan melalui kemenangan perang yang besar. Tidak ada strategi militer yang spektakuler, tidak ada kekuatan pasukan Yehuda yang mengalahkan Asyur. Tuhan sendiri bertindak, melalui Malaikat-Nya yang mengalahkan 185.000 orang di perkemahan Asyur.
Sahabat Alkitab, terkadang kita mengukur jawaban Tuhan berdasarkan apakah keadaan berubah seperti yang kita inginkan. Kita berpikir bahwa Tuhan diam ketika jalan yang terbuka tidak sesuai dengan harapan kita. Namun Yesaya mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah kehilangan kendali hanya karena Ia bekerja dengan cara yang berbeda. Ia menjawab dengan cara-Nya sendiri: cara yang menyatakan kuasa-Nya, membongkar kesombongan manusia, dan meneguhkan bahwa hanya Dia yang memegang kehidupan. Karena itu, ketika jawaban Tuhan belum terlihat seperti yang kita harapkan, tetaplah percaya. Sebab terkadang bukan karena Tuhan belum menjawab, melainkan karena kita belum melihat bagaimana Ia sedang bekerja.
























