Bayangkanlah sebuah rumah atau gedung yang bagus dan nampak indah dari luar. Ia menjulang tinggi menyapa langit dengan segala ornamen yang memanjakan mata. Namun di dalamnya gedung itu ternyata rapuh. Material yang menyusunnya bukanlah yang terbaik dan tidak sesuai ukuran. Pondasi yang dikerjakan sekenannya dan masih banyak hal lainnya. Bagaikan kita yang dari luar nampak baik-baik saja, indah, dan kuat, tetapi memiliki hati yang rapuh serta jauh dari-Nya.
Bangsa Yehuda sempat terlihat baik dan bertahan bahkan setelah “saudaranya”, Kerajaan Israel mengalami kehancuran. Namun rupanya kondisi di dalam kerajaan itu sendiri sesungguhnya tidak baik-baik saja. Perikop kita saat ini dimulai dengan ekspresi kegeraman Allah yang telah sampai pada puncaknya, bahkan Yeremia dilarang-Nya untuk memohon bagi bangsa itu. Yehuda telah melakukan apa yang keji di mata Allah. Mereka menyembah ilah lain yang cara penyembahannya telah merasuk dalam budaya setiap keluarga. Allah tidak lagi menghargai ritual kurban dari bangsa itu karena apa yang mereka lakukan tidak berdasarkan spiritualitas yang mendalam melainkan sebuah pertunjukkan semu. Sesungguhnya yang diinginkan Allah adalah ketaatan manusia terhadap perintah-Nya. Sebagaimana dahulu Allah mengeluarkan Israel dari perbudakan Mesir dan memerintahkan mereka untuk mendengarkan suara-Nya (ay.21-28).
Demikianlah Allah kini mengingatkan kita akan perjalanan spiritualitas dan keagamaan yang selama ini dilakukan. Jangan-jangan kita telah terjebak dalam formalitas agama yang mewujud dalam segala laku ritualistik, tetapi tanpa pemaknaan yang mendalam dan dampak nyata dalam hidup sehari-hari. Hari Senin-Sabtu kita hidup dalam cara dunia, sementara minggu dalam peribadahan yang kita lakukan, seolah kembali kepada-Nya. Allah menginginkan sebuah hidup yang berpusat pada suara-Nya (ay. 23). Itu berarti sebuah kesatuan pemahaman dan laku hidup yang berpatokan pada firman-Nya semata.
























