YEREMIA 8:1-3
Sesuatu yang kita hadapi saat ini seringkali merupakan sebuah rangkaian konsekuensi dari pilihan-pilihan yang kita ambil dalam hidup. Sebagai orang beriman, pilihan-pilihan tersebut kita letakkan dalam koridor perintah-Nya semata. Dengan demikian pilihan yang salah adalah pilihan yang menempatkan pada sisi yang berseberangan dengan perintah serta ketetapan-Nya.
Sayangnya sisi itulah yang dipilih oleh bangsa Yehuda. Dari sejak semula Allah tidak menginginkan umat-Nya mendua. Hanya Allah saja yang disembah dan menempati yang terutama dalam kehidupan anak-anak-Nya, namun sayangnya Yehuda memilih menduakan Allah. Di tengah krisis kehidupan yang membayangi Yehuda, mereka mencari penguatan dari kuasa-kuasa lain. Dewa-dewa bangsa lain ditempatkan di Bait Allah. Bahkan dalam ayat 31-34 kita melihat betapa mereka melakukan persembahan kurban kepada ilah-ilah yang mereka sembah.
Di tengah situasi tersebut Allah menegakkan keadilan-Nya. Tuhan memang Maha Kasih tetapi Ia juga Maha Adil. Apa yang dilakukan Yehuda adalah sebuah pelanggaran atas ketetapan-Nya yang telah dipegang teguh sejak zaman leluhur Israel. Maka dengan bahasa yang begitu lugas, Allah mewartakan penghukuman yang terjadi atas Yehuda. Bukan dengan semangat untuk membinasakan melainkan mendidik dan menunjukkan kepada umat-Nya.
Pada saat ini kita belajar untuk terus berjuang menaati-Nya dan mengasihi Tuhan dengan seluruh keberadaan kita. Ketaatan itu tercermin dalam pilihan-pilihan hidup yang kita ambil setiap hari. Apakah kita mengutamakan Allah dan segala kehendak-Nya ataukah memilih mengikuti hawa nafsu dan menciptakan berhala-berhala dalam kehidupan kita. Jangan sampai kita berada di sisi yang salah, karena cara Allah untuk mengajar anak-anak-Nya terkadang begitu keras.
























