Seringkali kita merasa memiliki kendali penuh atas kehidupan kita. Segala hal dapat kita prediksi dan kuasai seutuhnya. Kita seolah-olah menyiapkan masa depan dalam rencana matang dengan mengandalkan logika dan yakin bahwa segala sesuatu sudah teratasi. Tidak ada yang salah dengan menyiapkan segala sesuatu dalam rencana matang. Namun kita harus menyadari bahwa kedaulatan sepenuhNya atas segala rencana dan kendali kehidupan hanyalah Tuhan semata.
Bacaan kita pada kali ini memberikan peringatan sekaligus pengharapan yang sangat tegas bagi perjalanan iman kita. Bangsa Yehuda jatuh ke dalam kehancuran bukan karena kurangnya kemampuan militer, melainkan karena pemimpin dan rakyatnya yang bebal. Mereka tidak mencari Tuhan dan mengandalkan hikmat sendiri (ay. 21). Saat bencana menimpa, mereka baru menyadari betapa manusia sesungguhnya penuh dengan keterbatasan.
Nabi Yeremia mengingatkan kita bahwa manusia pada akhirnya tidak berkuasa untuk menentukan jalannya sendiri. Maka yang dapat kita lakukan adalah berserah kepada-Nya termasuk saat Ia mengajar dan menghajar kita. Sesungguhnya segala sesuatu dikerjakan Tuhan demi kebaikan-Nya. Kerendahan hati dihadapan-Nya adalah hal yang penting untuk hidup dengan teguh dalam kehendak-Nya serta firman-Nya.
Sahabat Alkitab, mungkin pada saat ini tengah terjadi hal-hal yang diluar kuasa serta kendali kita. Bahkan mungkin jauh dari apa yang kita harapkan. Janganlah cemas atau khawatir karena segala sesuatu dikerjakan Allah demi kebaikan kita. Ia selalu berkehendak untuk mendidik dan mengajar kita melalui segala peristiwa. Hanya Tuhan yang menjadi sosok berdaulat dalam kehidupan kita.
























