Beberapa orang terplilih untuk bertanggung jawab atas pengambilan keputusan. Memimpin serta memikirkan kebijakan-kebijakan yang berdampak baik bagi sebanyak mungkin orang. Mungkin kita menjadi pemimpin di lingkungan keluarga, rumah, kantor, gereja, bahkan di pemerintahan. Apapun konteks kepemimpinannya, pesan yang hendak Tuhan sampaikan sesungguhnya serupa yakni menjadi pemimpin yang baik, laksana gembala yang menggembalakan dombanya dengan penuh kasih dan sebaik-baiknya.
Pada perikop yang kita baca, Tuhan kembali memberikan nasehat kepada para pemimpin bangsa. Israel pernah dipimpin oleh gembala-gembala yang jahat, yang membiarkan kambing domba TUHAN hilang dan terserak. Tugas gembala adalah menggembalakan domba, tetapi disini mereka justru menyesatkan domba. Maka Tuhan akan membalas kejahatan dari para gembala ini.
Setelah penghukuman dinyatakan kepada para gembala yang jahat ini, Tuhan melanjutkan tindakan-Nya yakni mengumpulkan domba-domba yang tercerai berai ini. Kini Tuhan mengambil alih tugas yang tadinya dipercayakan kepada para gembala. Tuhan juga akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang betul-betul akan melakukan tugasnya dengan baik. Itulah janji Allah yang didasarkan pada kasih-Nya yang begitu besar itu.
Hari ini kita belajar bahwa tindak tanduk kepemimpinan kita, sesungguhnya adalah bagian dari penghayatan dari kasih Tuhan yang menunjukkan jalan yang benar bagi kita. Jika kita dipercaya untuk memimpin marilah kita berefleksi, sudahkah mereka yang kita pimpin telah kita perlakukan dengan sebaik-baiknya? Sementara itu kita sadar beberapa pemimpin bagaikan gembala-gembala yang tidak berlaku baik itu, maka teruslah berharap pada Tuhan karena Ia tidak akan tinggal diam dan menghadirkan pertolongan bagi kita.
























