Bayangkan seorang nabi yang selama dua puluh tiga tahun menyampaikan pesan yang sama kepada bangsanya. Tahun demi tahun berlalu. Ia terus berbicara, tetapi umat tetap tidak berubah. Yeremia tidak kekurangan kata-kata, dan Yehuda tidak kekurangan peringatan. Tuhan bahkan terus-menerus mengutus para nabi-Nya. Namun, panggilan itu seperti berlalu begitu saja. Mungkin mereka selalu merasa masih ada waktu dan kesempatan masih terbuka.
Yeremia 25:1-14 memperlihatkan bahwa kehancuran Yehuda bukan peristiwa yang datang tanpa peringatan. Nabi mengenang dua puluh tiga tahun pelayanannya: firman Tuhan terus disampaikan, tetapi umat tidak sungguh-sungguh mendengarkan. Tentu disini yang dimaksud sebagai mendengarkan bukan sekadar menerima informasi. Mendengarkan berarti memberi respons dan membiarkan firman mengubah arah hidup. Karena itu, persoalan Yehuda bukan bahwa mereka tidak mengetahui kehendak Tuhan. Mereka telah dipanggil untuk meninggalkan jalan-jalan yang jahat dan kembali kepada-Nya, tetapi mereka terus menunda.
Perlu diakui bahwa menunda sesuatu tidak selalu merupakan hal buruk. Ada keputusan yang memang memerlukan waktu, pertimbangan, dan kehati-hatian. Namun, ada pula penundaan yang sebenarnya bukan lagi kebijaksanaan, melainkan keengganan untuk berubah. Ketika kita telah mengetahui apa yang benar, tetapi terus berkata, “Nanti,” penundaan dapat perlahan berubah menjadi ketidaktaatan. Karena itu, gambaran hukuman dalam ayat 10 terasa begitu tragis. Bunyi batu kilangan, yang menjadi tanda kehidupan rumah tangga akan berhenti. Cahaya pelita yang merupakan tanda bahwa sebuah rumah masih dihuni, akan padam. Suara sukacita dan pengantin pun tidak lagi terdengar. Kehancuran yang akan dihadapi umat tidak hanya meruntuhkan bangunan, tetapi menghilangkan irama kehidupan.
Sahabat Alkitab, seringkali kita merasa masih membutuhkan lebih banyak waktu atau petunjuk yang lebih jelas. Padahal, persoalannya mungkin bukan karena kita belum melihat jalan-Nya, melainkan karena kita masih ragu untuk melangkah. Barangkali yang kita perlukan bukan lebih banyak waktu untuk mengetahui kehendak Tuhan, melainkan keberanian untuk melakukan apa yang sebenarnya sudah kita ketahui. Jangan terlalu lama menunda, sebab penundaan yang terus dipelihara hari ini dapat menjadi penyesalan di masa depan.
























