Selayaknya yang terjadi pada saat ini di berbagai belahan dunia yang dilanda perang serta konflik, tidak ada kemenangan dari proses tersebut karena pada akhirnya hanya kekerasan demi kekerasan yang menguat. Seperti yang kita baca saat ini. Selepas penaklukkan Babel atas Yehuda, kondisi Yehuda belum terlampau stabil. Babel menjadikan Yehuda salah satu provinsinya serta menunjuk Gedalya anak Ahikam sebagai gubernur wilayah tersebut. Sayangnya situasi tidak kunjung kondusif sehingga meretas jalan bagi berbagai intrik dan kekerasan.
Ismael bin Netanya yang masih keturunan raja, datang bersama sepuluh orang pengikutnya ke Mizpa. Saat mereka dijamu makan bersama oleh gubernur Gedalya, Ismael dan anak buahnya membunuh Gedalya dengan keji, serta orang-orang Yahudi dan tentara Kasdim yang ada di sana. Apa yang menyebabkan kudeta ini terjadi? Yeremia tidak memberikan alasannya. Namun kemungkinan besar Ismael yang adalah keturunan raja (1), tidak bisa menerima kepemimpinan Gedalya, yang menurutnya bukan siapa-siapa. Ismael merasa dirinyalah yang paling layak memimpin sisa-sisa Yehuda. Pada bagian akhir teks kita, dapat terlihat bahwa kudeta Ismael rupanya gagal. Rakyat mengikuti dia dengan terpaksa dan Babel membalaskan kudeta tersebut dengan memakan korban dari rakyat.
Sahabat Alkitab, melalui perikop pada hari ini, satu lagi kita melihat orang-orang yang terbutakan oleh kekuasaan. Mereka yang tengah terbutakan tersebut telah menjadikan kekuasaan sebagai tujuan dan bukan sarana untuk membawa kebaikan bagi banyak orang. Bukankah di sekitar kita juga masih tampak contoh yang serupa? Orang-orang berlomba ke tampuk kekuasaan. Berkoar-koar akan mensejahterakan rakyat dan bagian dari rakyat. Saat ia sudah berada dalam kekuasaan. Janji-janji itu semua terlupakan. Tidak semua memang, tetapi kecenderungan tersebut sangatlah kuat. Maka sebagai orang beriman kita harus senantiasa mawas diri dan bersandar erat pada Tuhan sehingga perspektif kita akan kekuasaan pun sesuai serta seturut kehendak-Nya. Kekuasan adalah alat untuk mengerjakan kebaikan serta kasih setia Tuhan bagi sebanyak mungkin orang dan bukan dengan tujuan untuk memperkaya diri sendiri.
























