Hari-hari Barukh dipenuhi kata-kata yang tidak mudah dituliskan. Sebagai orang yang membantu Yeremia, ia harus menuliskan pesan tentang dosa, teguran, dan kehancuran yang akan datang atas Yehuda. Sementara itu, keadaan bangsa semakin genting dan masa depan semakin sulit dibayangkan. Ia tetap menjalankan tugasnya, tetapi semua yang didengar dan dituliskannya perlahan menjadi beban. Sampai akhirnya ia berkata, “Celakalah aku, sebab Tuhan telah menambahkan kedukaan kepada penderitaanku! Aku lelah karena keluh kesahku dan aku tidak mendapat ketenangan.” Barukh bukan sekadar sedang kelelahan. Ia sedang berhadapan dengan kenyataan bahwa kehidupan yang mungkin ia harapkan tidak sedang bergerak menuju arah yang ia bayangkan.
Dalam keadaan seperti itu, kita tidak hanya kehilangan kepastian tentang masa depan, tetapi juga dapat mempertanyakan makna dari apa yang sedang dijalani. Kita sering mengukur kehidupan melalui apa yang ingin dicapai, dibangun, atau dihasilkan. Selama semuanya berjalan sesuai harapan, ukuran itu jarang kita pertanyakan. Namun, ketika rencana gagal dan hasil yang dinantikan tidak kunjung datang, muncul pertanyaan yang lebih dalam: Jika apa yang kuharapkan tidak terjadi, apakah hidupku masih berarti? Barukh mungkin sedang berada dalam pergumulan semacam itu ketika Tuhan berkata, “Bagaimana mungkin engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya!”
Kita tidak mengetahui dengan pasti apa yang dimaksud dengan “hal-hal besar” yang dicari Barukh, karena itu, kita tidak perlu buru-buru mengartikannya sebagai ambisi akan jabatan, kekayaan, atau keberhasilan. Yang menarik justru cara Tuhan menggeser perspektifnya. Barukh mungkin sedang melihat hidup melalui apa yang ingin dicapai, sementara Tuhan mengajaknya melihat melampaui ukuran itu. Sebab, nilai sebuah kehidupan tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar sesuatu yang berhasil dibangun atau seberapa jauh seseorang mencapai apa yang diharapkannya. Kehidupan tetap bernilai meskipun ada rencana yang berubah, pekerjaan yang tidak sesuai bayangan, atau hasil perjuangan yang belum pernah terlihat sepenuhnya.
Sahabat Alkitab, kita pun dapat mengalami pergumulan yang serupa. Kita dapat begitu lama mengejar sesuatu sampai tanpa sadar menjadikannya ukuran bagi nilai diri kita: pekerjaan, pelayanan, pencapaian, keluarga, pengakuan, dll. Ketika semua itu tidak terjadi seperti yang diharapkan, kita mudah merasa gagal, seolah-olah hidup ini tiada artinya. Namun, Yeremia mengingatkan bahwa Tuhan tidak menjanjikan Barukh kehidupan tanpa kehilangan. Ia bahkan mengatakan bahwa apa yang telah dibangun akan diruntuhkan dan apa yang telah ditanam akan dicabut. Yang Tuhan janjikan adalah bahwa hidup Barukh akan dipelihara di tengah semuanya itu. Dari sini kita diajak untuk melampaui ekspektasi, bukan dalam arti menerima sesuatu yang lebih besar dari yang kita harapkan, melainkan belajar melihat bahwa hidup tetap berarti bahkan ketika yang kita harapkan tidak terjadi.
























