Yeremia 51:34 merekam ratapan Yerusalem yang sangat jujur. Nebukadnezar, raja Babel, digambarkan seperti naga yang menelan Sion bulat-bulat, mengenyangkan perutnya dengan segala yang berharga, lalu membuangnya. Umat Allah tidak menyembunyikan luka mereka di hadapan Tuhan. Mereka berseru dan menuntut keadilan atas kekerasan yang mereka alami. Alkitab memberi ruang bagi ratapan semacam ini. Iman tidak menuntut kita berpura-pura baik-baik saja.
Sungguh menarik melihat jawaban Tuhan. Ia tidak menyuruh umat-Nya membalas. Ia berfirman, “Sesungguhnya, Aku akan memperjuangkan perkaramu” (ay. 36). Tuhan sendiri yang turun tangan sebagai Pembela. Babel yang mengaum seperti singa akan digiring seperti domba. Kota yang disebut “kemegahan seluruh bumi” akan direbut. Bel, dewa yang menjadi kebanggaan Babel, akan dipaksa memuntahkan kembali apa yang telah ditelannya (ay. 44). Kuasa yang tampak tidak tergoyahkan ternyata tidak abadi. Hanya Tuhan yang berdaulat atas sejarah.
Firman ini menghibur sekaligus menantang kita. Menghibur, karena tidak ada luka yang luput dari perhatian Tuhan, dan tidak ada kuasa yang terlalu besar bagi-Nya. Menantang, karena kita dipanggil untuk menyerahkan segala tindak pembalasan serta keadilan hanya kepada Tuhan semata. Ketika kita membalas kekerasan dengan kekerasan, kita sedang berubah menjadi “Babel” yang baru, kita juga perlu bertanya dengan rendah hati: adakah orang lain yang merasa “ditelan” oleh sikap, keserakahan, atau kuasa kita?
Marilah kita membawa setiap ratapan kita dengan jujur kepada Tuhan. Percayalah, Ia mendengar, dan Ia sanggup memulihkan apa yang telah dirampas dari hidup kita. Di tangan-Nya, perkara kita aman.
























