Setiap hari kita dibanjiri kabar lewat telepon genggam kita masing-masing. Berita politik, konflik, krisis ekonomi, hingga hoaks yang beredar di media sosial datang silih berganti. Satu kabar belum selesai dicerna, kabar lain sudah menyusul. Tanpa sadar, hati kita bisa menjadi lelah dan cemas secara berlebihan. Bagaimana kita tetap teguh ketika dunia di sekitar kita terasa tidak menentu?
Umat Israel di pembuangan mengalami hal serupa. Mereka hidup di Babel, kota besar yang megah dan kuat, jauh dari Yerusalem dan Bait Suci yang telah dihancurkan. Mereka merasa malu dan terhina (ay. 51). Kabar demi kabar tentang kekerasan dan pergolakan kekuasaan terus terdengar. Namun Tuhan berfirman agar hati mereka tidak menjadi tawar dan tidak takut karena kabar-kabar itu (ay. 46). Bahkan jika Babel naik sampai ke langit, Tuhan tetap berkuasa atasnya (ay. 53).
Di tengah semua itu, Tuhan memberi satu panggilan yang indah: “Ingatlah dari jauh kepada TUHAN dan biarlah Yerusalem timbul lagi dalam ingatanmu!” (ay. 50). Jarak tidak memutuskan hubungan umat dengan Tuhan. Di negeri asing pun, mereka dapat tetap mengingat Tuhan dan menjaga pengharapan di dalam hati. Lalu Yeremia meminta Seraya membacakan gulungan nubuat di Babel, mengikatnya dengan batu, dan melemparkannya ke sungai Efrat. Seperti gulungan itu tenggelam, demikian juga Babel akan tenggelam dan tidak timbul lagi (ay. 63–64). Segala kemegahan yang dibangun di atas penindasan akan berakhir. Bangsa-bangsa yang bersusah payah untuk Babel ternyata berlelah-lelah untuk yang sia-sia (ay. 58).
Perikop kita pada hari ini mengajak kita untuk memeriksa diri. Untuk apa kita bersusah payah setiap hari dan dikuasai kecemasan berlebih karena hal-hal yang belum pasti? Marilah kita mengarahkan hidup kepada Tuhan, yang menjadi penguasa atas semesta. Sehingga ketika kabar-kabar dunia membuat kita gelisah, kita tetap mengingat Tuhan yang mendatangkan ketentraman hati. Tuhanlah Raja yang sesungguhnya. Di tangan-Nya, sejarah tidak pernah lepas kendali.
























