Keadilan Tuhan akan senantiasa dinyatakan dalam waktu yang tepat menurut hikmat-Nya. Itulah dimensi keberadaan Allah yang tidak dapat kita lupakan. Dalam perspektif keadilan tersebut, apapun yang Allah kerjakan pada hakikatnya tidak untuk membinasakan kita melainkan mendidik dalam penuh kasih.
Inilah yang coba disampaikan Allah melalui Yehezkiel. Dalam Yehezkiel 5, Tuhan menyuruh nabi mencukur rambut dan janggutnya, menimbangnya, lalu membaginya menjadi tiga. Sebagian dibakar, sebagian ditebas pedang, sebagian ditebarkan ke angin. Lalu Tuhan menjelaskan, “Beginilah firman Tuhan Allah: Inilah Yerusalem! Kutempatkan dia di tengah-tengah bangsa-bangsa dan sekelilingnya ada negeri-negeri” (ay. 5). Yerusalem ditempatkan di tengah supaya bangsa-bangsa dapat melihat keadilan dan kesetiaan umat Allah. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Yerusalem memberontak terhadap hukum Tuhan lebih daripada bangsa-bangsa di sekitarnya. Mereka bahkan tidak hidup sesuai dengan ukuran kebaikan tetangga mereka sendiri. Akibatnya, Yerusalem menjadi tontonan, ejekan, dan peringatan bagi bangsa-bangsa yang melihatnya.
Allah menimpakan tantangan yang begitu berat kepada Israel. Meskipun demikian Israel tidak akan ditinggalkan. Ada yang masih akan bertahan dan meneruskan garis keturunan mereka. Allah juga akan mendidik mereka kembali dalam kasih serta kebenaran. Allah mengajak umat-Nya untuk berproses dan hidup dalam kebenaran. Pertanyaannya bagi kita sekarang adalah apakah kita bersedia menerima didikan Allah dan mengubah cara hidup kita seturut dengan sabda-Nya. Kasih dan keadilan Allah yang akan menghantar kita pada pemulihan kehidupan serta kesempatan untuk senantiasa menyembah-Nya.
























