Pengalaman bersama dengan Allah adalah misteri. Satu sisi kita merasa dan mengetahui bahwa Ia dekat, tetapi pada sisi lainnya Ia adalah sosok yang tidak terjangkau oleh keterbatasan kita sebagai manusia. Itulah pengalaman relasi dengan-Nya, sosok yang hidup dan selalu berkehendak untuk menjangkau umat-Nya. Dalam kesadaran inilah kita diharapkan untuk selalu terhubung dengan-Nya, Sang Pemilik Kehidupan.
Pengalaman relasi dengan Allah itulah yang telah memukau umat beriman di sepanjang zaman, termasuk dalam bacaan kita kali ini. Pada paruh pertama dari bacaan kita, pemazmur mengemukakan kesadarannya atas Allah yang begitu mengenalnya. Duduk atau berdiri, berjalan atau berbaring, Allah mengetahui segala tindak tanduk kita. Ia tidak sekedar mengetahui, melainkan menyelami keberadaan kita secara mendalam. Seolah-olah tidak ada jarak antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya.
Tuhan adalah Sang Pelindung umat-Nya, sebagaimana diekspresikan oleh pemazmur dalam ayat 5, “Dari belakang dan dari depan Engkau memagari aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.” Sebuah pengingat dan penanda akan perlindungan Allah. Ia mengetahui segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Dengan demikian, masa depan beserta segala misteri-Nya tidak luput dari pengawasan Allah. Dalam semesta ciptaan-Nya ini, tidak ada satu pun tempat yang tersembunyi bagi-Nya.
Pada hari ini kita diingatkan untuk kembali merefleksikan sekaligus menikmati pengalaman pribadi kita bersama-Nya. Segala kesibukan dan tuntutan zaman modern ini seringkali tidak memberikan waktu bagi kita untuk benar-benar merenungkan keberadaan-Nya. Waktu telah menyandera kita dari apa yang benar-benar penting yakni membangun serta menghayati relasi dengan-Nya. Marilah hidup dalam kesadaran dan kebutuhan untuk senantiasa merefleksikan pengalaman hidup dalam kacamata relasi bersama-Nya.

























