Pertanyaan mengenai eksistensi manusia, baik itu terkait makna maupun pertanyaan tentangnya pada dirinya sendiri, merupakan sesuatu yang memesona manusia di sepanjang zaman. Untuk apa kita hidup di dunia? Apakah tujuan dari keberadaan kita? Apakah keberadaan kita memiliki makna tertentu yang telah ditentukan sebelumnya? Perenungan eksistensial ini juga ditangkap oleh pemazmur dalam bacaan kita kali ini. Hanya saja ia mengenakan perenungan akan eksistensi manusia selalu dalam keterkaitan dengan penciptanya.
Bacaan kita kali ini dimulai dari pertanyaan dan permohonan mendasar kepada Tuhan agar Ia menyelidiki dan mengenal umat-Nya. Pada paruh kedua syair ini yakni ayat 13-24, pemazmur mengajak kita untuk menyelami lebih dalam jati diri manusia yang sesungguhnya. Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu, termasuk manusia. Berbeda dengan penggambaran akan penciptaan Allah di manusia yang berlandaskan sabda-Nya, kini ditampilkan gambaran penciptaan itu melalui proses pembentukan yang sistematis dan teratur. Ia adalah Sang Penenun yang “menenun” manusia dalam kandungan ibunya. Sungguh ajaib dan berada di luar jangkauan pikiran manusia. Ia mengenal setiap insan bahkan jauh sebelum mereka tercipta dalam dunia dan menetapkan langkah kaki mereka hingga pada kesudahannya.
Sungguh begitu ajaib setiap tindakan-Nya. Dengan penuh kerendahan hati pemazmur mengajak orang-orang percaya di sepanjang zaman untuk dengan rendah hati mengakui segala keterbatasan kita dalam memahami pikir dan kehendak-Nya. Maka pemazmur memilih untuk tetap menjadi orang benar yang dengan teguh memegang kebenaran-Nya, berbeda dengan orang-orang fasik yang memberontak melawan Allah. Maka satu hal yang dipintanya adalah supaya Allah menyelidikinya, menyelami hatinya, menguji serta mengetahui pikirannya. Agar jelas jalan yang dipilih oleh setiap insan. Jika serong kiranya Tuhan meluruskan dan mengembalikan ke jalan yang benar.
Sahabat Alkitab, dalam refleksi kita kali ini pada akhirnya sudahlah jelas bahwa seluruh keberadaan kita tertambat pada relasi dan kesadaran akan adanya Sang Pencipta. Dengan demikian seluruh upaya untuk mengenal dan merefleksikan diri kita, seharusnya selalu berkaitan dengan penghayatan akan keberadaan kita dalam relasi dengan-Nya. Janganlah menjauh dari-Nya barang sedetik pun. Ia adalah Tuhan yang senantiasa merengkuh kita dalam kasih serta penyertaan-Nya.
























