Kita sering mengagumi kemegahan yang terlihat di hadapan mata, misalnya: gedung-gedung tinggi, pakaian bermerek, atau keberhasilan finansial yang tampak mengesankan. Semua itu seolah menjadi simbol keberhasilan dan berkat. Namun, tidak jarang kita lupa bertanya: kisah apa yang tersembunyi di balik kemegahan itu? Ada buruh yang bekerja tanpa upah layak, ada pekerja yang diperlakukan tidak adil, ada mereka yang suaranya tidak pernah terdengar. Realitas ini mengingatkan kita bahwa tidak semua keberhasilan dibangun di atas keadilan. Di sinilah hikmat mengajak kita untuk melihat lebih dalam, melampaui apa yang tampak di permukaan.
Amsal 14:31 menyatakan, “Siapa menindas orang lemah menghina Penciptanya, tetapi siapa berbelaskasihan kepada orang miskin memuliakan Dia.” Pengajaran ini sangat kuat, karena menghubungkan secara langsung tindakan kita terhadap sesama dengan sikap kita terhadap Allah. Dasarnya adalah keyakinan bahwa setiap manusia diciptakan oleh Tuhan. Karena itu, ketika seseorang ditindas, baik secara pribadi maupun melalui sistem yang tidak adil, yang direndahkan bukan hanya manusia, tetapi juga Sang Pencipta. Sebaliknya, belas kasih bukan sekadar tindakan moral, melainkan tindakan iman. Prinsip ini juga selaras dengan ajaran dalam Kitab Ulangan 15:1-11, yang menekankan tanggung jawab umat Tuhan untuk membuka tangan bagi mereka yang berkekurangan.
Sadarkah kita, bahwa seseorang dapat bersikap apatis dengan ketidakadilan ketika ia tidak melihat langsung dampaknya. Namun, empati memulihkan kepekaan kita. Ketika kita memilih untuk peduli, membantu, dan memperlakukan sesama dengan hormat, kita sedang memulihkan nilai kemanusiaan yang Tuhan tanamkan dalam diri kita. Belas kasih bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan iman.
Sahabat Alkitab, Amsal hari ini mengundang kita untuk memeriksa hati dan kehidupan kita. Apakah kita sungguh memuliakan Tuhan dalam cara kita memperlakukan sesama? Iman tidak hanya dinyatakan melalui doa dan ibadah, tetapi juga melalui keadilan, kejujuran, dan belas kasih. Setiap kali kita memilih untuk menghormati, melindungi, dan menolong mereka yang lemah, kita sedang memuliakan Tuhan. Sebab sering kali, wajah Tuhan hadir bukan dalam kemegahan yang memukau mata, melainkan dalam diri sesama yang membutuhkan kasih kita.
























