Manusia adalah makhluk yang reflektif. Ia satu-satunya ciptaan Tuhan yang memiliki akal budi sehingga dapat mengkontemplasikan keberadaan-Nya di dunia ini. Merenungkan makna dari apa yang dilakukannya serta melangkah dalam tujuan yang telah ditetapkan-Nya. Bagi orang beriman, upaya reflektif dan kontemplatif tersebut selalu terkait erat dengan relasinya dengan Sang Pencipta.
Pada kali ini kita akan memulai perjalanan untuk menelisik nasihat-nasihat Tuhan melalui kitab Pengkhotbah. Sebuah kitab yang sungguh menarik, yang berdiri antara tradisi hikmat dan refleksi filosofis atas kehidupan. Nama dari kitab ini sendiri merujuk pada ayat 1 dimana terdapat rujukan terhadap kepengarangan yakni dari “perkataan pengkhotbah”. Ia dipandang sebagai sosok bijaksana yang melakukan/mengumpulkan serangkaian refleksi atas kehidupan. Pengkhotbah membuka refleksinya dengan berkata, “kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, semuanya sia-sia (ay.2).” Ada dua makna dari kata kesia-siaan yang dipakai Pengkhotbah; pertama, segala sesuatu yang ada dan terjadi di dunia sifatnya sementara. Akan timbul dan tenggelam, datang dan pergi. Oleh sebab itu segala sesuatu penuh dengan absurditas dalam arti kesenjangan antara apa yang diharapkan dan apa yang dialami manusia.
Sekuat apapun kita berupaya mengambil kendali penuh atas kehidupan kita, tetap saja jauh lebih banyak hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Segalanya berlangsung dalam siklus yang terus berulang. Jika tidak pandai-pandai menilai dan merefleksikan situasi akan terjebak pada pengejaran hasrat yang tidak pernah memuaskan manusia (ay.8).
Perenungan pengkhotbah ini membawa kita masuk ke dalam sebuah pertanyaan mendasar tentang apa yang paling bermakna dalam hidup kita. Kita seringkali terjebak pada hal-hal yang kita kira bermakna dan menentukan dasar keberadaan kita. Misalnya saja pada kekuasaan, harta, koneksi, dan jabatan. Padahal ketiganya adalah kesementaraan semata. Perjalanan untuk mencari apa yang benar-benar penting dan bermakna itulah yang menjadikan kita manusia-manusia yang reflektif. Sehingga dalam pencarian itu pun kita dapat berjumpa dengan Tuhan yang menjadi dasar keberadaan seluruh semesta.
























