Dunia modern dikenal dengan kemajuan dan proses perkembangan yang begitu cepat. Semua hal dapat terjadi secara instan. Namun dalam proses yang instan itu seringkali makna tergerus dan manusia tidak mendapatkan ruang untuk merefleksikan makna hidupnya. Akibatnya hidup mengalir begitu saja tanpa sempat mengkontemplasikan keputusan apa yang selama ini telah diambil dan dilalui. Meskipun terkadang hasil dari kontemplasi itu jauh dari apa yang ideal, tetapi kita diajak untuk tetap mencari dan menjalani makna kehidupan yang benar-benar kita pegang.
Dalam bacaan kali ini, Pengkhotbah menggambarkan dirinya selayaknya raja Israel yang hidup membaktikan diri untuk mencari hikmat dan menyelidiki segala yang terjadi di bawah langit. Kesimpulan yang didapatnya adalah hidup adalah sesuatu yang misterius. Pencarian makna sendiri terasa begitu melelahkan karena sejauh mata memandang hanya ada kesia-siaan. Sebuah usaha menjaring angin, menangkap sesuatu yang tidak dapat digenggam. Kesimpulan pengkhotbah ini adalah sebuah bentuk kerendahan hati yang sebenarnya dibutuhkan oleh peradaban modern. Kita merasa dapat mengubah dan mengendalikan segala sesuatu, padahal ketidaksempurnaan akan selalu ada. Hal yang tidak diduga datang silih berganti. Maka sebenarnya jauh lebih banyak hal yang berada di luar kendali manusia.
Refleksi pengkhotbah rupanya mengundang kita untuk dapat melihat dengan jujur. Hidup ini memang melelahkan. Bangun pagi-pagi, tergesa-gesa berangkat ke sekolah atau tempat kerja, berlelah-lelah sepanjang hari, terjebak kemacetan yang di luar nalar, lalu kembali ke rumah untuk tidur dalam kelelahan. Semua ini menjadi rutinitas yang tidak berujung. Kalau begitu bukankah lebih enak menjadi pribadi yang cuek dan bebal, menjalani hidup begitu saja tanpa harus repot-repot merenungkan makna dan hikmat. Memang bisa saja seperti itu, tetapi bukankah Allah bersama dengan mereka yang hidup dalam hikmat serta ajaran-Nya. Kita bertumbuh dalam gumul juang pencarian makna, bahkan yang terkesan absurd sekalipun Selain itu melalui hikmat sesungguhnya setiap orang ditantang untuk mendialogkan makna hidup dengan penyelenggaraan Ilahi yang terus teranyam dalam dunia. Sehingga orang beriman tidak menyerah pada banalitas kehidupan, melainkan berupaya melihat keindahan dalam keyakinan akan Tuhan yang mencukupkan dan memelihara segala sesuatunya.
























