Setiap orang tahu bahwa pekerjaan adalah sebuah keniscayaan jika ingin bertahan hidup dalam dunia modern ini. Namun apakah tujuan sebenarnya dari kerja kita? Apakah itu untuk mencari uang? Biasanya akan ditambahkan informasi mengenai pekerjaan dilakukan untuk makan, keluarga dan berbagai jawaban yang lain. Kemudian pertanyaan itu dilanjutkan: mengapa kita bekerja terus menerus, bahkan tanpa henti setelah kita mendapat uang? Kapan kita menikmati semuanya? Disinilah kita akan kesulitan untuk menjawab. Hal itulah yang ditanyakan oleh Pengkhotbah ketika ia mengatakan: segala sesuatu sia-sia.
Kekosongan hidup tengah direnungkan oleh sang pengkhotbah. Pekerjaan, segala kesenangan, kekayaan, pencapaian, bahkan hikmat telah diperolehnya, tetapi mengapa rasanya begitu kosong. Sehingga pada akhirnya kesimpulan akhir yang diucapkan adalah “semua itu sia-sia”. Kesenangan ternyata hanya sementara. Pencapaian tidak bisa dibawa selamanya. Kerja keras pun akhirnya akan ditinggalkan. Bahkan hikmat tidak mampu menghindarkan manusia dari kematian. Pengkhotbah seolah menggiring kita pada sebuah perenungan eksistensial tentang diri yang ribuan tahun juga telah dipertanyakan oleh orang-orang bahkan para pemikir/filsuf. Ada yang berpendapat bahwa makna hidup harus dicari sendiri oleh manusia dalam prosesnya menghidupi kehidupan bukan sesuatu yang telah ditentukan sebelumnya, sementara yang lain berkata bahwa makna lahir ketika diciptakan secara personal melalui komitmen, pilihan bebas, dan tanggung jawab individu di tengah ketidakpastian.
Bagaimana bacaan kita kali ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut? Menarik untuk melihat apa yang dituliskan pengkhotbah pada bagian akhir bacaan kita. Kita tidak akan memiliki kepenuhan hidup jika hanya berlandaskan apa yang kita miliki, peroleh, dan capai dalam hidup. Justru ketiganya membuat kita merasa tidak pernah cukup. Makna itu lahir dan ditemukan bukan ketika kita memiliki segalanya, melainkan ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu adalah pemberian Tuhan. Bukan “apa yang kita punya” yang membuat hidup berarti, tapi “dari SIAPA kita menerimanya.”
Hari ini, mungkin kita masih mengejar begitu banyak hal. Prestasi, karier, pengakuan, dan kenyamanan hidup. Hal tersebut sama sekali tidak salah. Namun ingatlah bahwa apapun yang kita miliki dan capai dalam hidup merupakan sarana untuk merenungkan kebaikan Allah serta penyertaan-Nya dalam hidup.
























