Relasi manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya adalah sesuatu yang menjadi inti dari iman serta keberagamaan seorang Kristen. Maka ada sebuah dinamika yang tercipta dalam relasi tersebut bahkan kebutuhan dua arah yang harus diperhatikan. Allah sebagai yang tidak terbatas berkenan menjadi Tuhan atas manusia asalkan manusia membangun relasi tulus dengan-Nya serta menaati kehendak-Nya. Lantas bagaimana jika manusia menjadi pihak yang tidak menepati peran dan perjanjian-Nya dalam relasi tersebut?
Inilah kondisi Israel yang digambarkan dalam Yesaya pasal 1 saat Nabi Yesaya memberikan pengantar tentang penglihatannya. Israel bagaikan seorang anak yang memberontak terhadap orangtuanya. Bahkan lembu saja mengenal siapa pemiliknya, tetapi Israel bagaikan keledai yang tidak mengenal tuannya. Apa sebabnya Israel diberikan predikat tersebut? Rupanya Israel telah melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Mereka meninggalkan Tuhan dengan perbuatan jahat tersebut. Akibatnya Israel harus menelan akibat dari perbuatan mereka. Negeri itu menjadi kosong dan hancur. Bagaikan Sodom dan Gomora yang menerima penghukuman Allah.
Kritik lain yang disampaikan oleh Allah adalah ibadah mereka yang “kosong”. Secara ritual dan religius mungkin Israel masih melakukan segala ketetapan Allah seperti kurban bakaran, perayaan keagamaan, serta doa. Namun mereka mengabaikan hal lain yang juga penting yakni keadilan, kebaikan, dan kasih antar sesama. Hal ini menegaskan bahwa yang Allah inginkan bukanlah ritual tanpa makna, melainkan kehidupan religius yang diimbangi dengan penghayatan etis yang benar. Bukankah ini yang juga sering terlihat di negara kita. Berbagai rumah ibadah penuh tetapi sayangnya berita tentang korupsi pun sama ramainya mengisi linimasa kita.

























