Penggambaran akan Allah yang penuh belas kasihan serta kelembutan tidaklah salah, tetapi kita juga harus mengingat gambaran Tuhan yang adil serta tidak segan-segan mendatangkan hukuman dan didikan bagi mereka yang memberontak terhadap-Nya. Keseimbangan dalam menghidupi dua penggambaran tersebut akan menghasilkan praktik hidup yang bijak serta senantiasa mempertimbangkan dampak dari tindakan-tindakan yang kita lakukan.
Pasal 24 menggambarkan penghukuman yang ditimpakan Allah atas bumi dengan segala isinya. Hal tersebut terjadi karena kejahatan yang dilakukan manusia. Namun menariknya ayat 14-16a masih terdengar suara puja-puji yang mengagungkan Allah di tengah situasi dunia yang porak poranda. Rupanya mereka adalah orang-orang yang bertahan dari segala sesuatu yang terjadi karena di saat yang tepat telah kembali kepada Allah serta segala ketetapan-Nya.
Sementara itu masih saja ada orang yang berkeras terhadap kekejian yang dilakukannya. Sang nabi mendeskripsikan pihak-pihak tersebut sebagai para pengkhianat. Bagaikan seekor hewan buruan mereka akan dikejar oleh ketakutan, lubang perangkap dan jerat. Mereka tidak terlepas dari konsekuensi atas apa yang mereka lakukan. Meskipun demikian penghukuman atas bumi ini tidaklah untuk selama-lamanya. Sebab akan datang masanya Tuhan menegakkan pemerintahan-Nya di Gunung Sion. Ia akan menunjukkan kemuliaan-Nya. Itu berarti tindakan Tuhan yang begitu tegas dan dahsyat atas bumi tidak untuk membinasakan dunia melainkan mendidik serta membawa-Nya kepada ketetapan-ketetapan Allah.
Maka dari itu kita dapat belajar untuk senantiasa hidup dalam firman serta ketetapan Tuhan. Allah memang maha pengasih, tetapi Ia juga tidak segan menyatakan keadilan-Nya. Sehingga kita diundang untuk membangun relasi dengan Allah berlandaskan dua kesadaran akan penggambaran Allah tersebut. Dengan demikian hidup yang bijak dan seturut kehendaknya menjadi sebuah keniscayaan yang lahir dari kehidupan kita.
























