Ada kalanya melakukan apa yang benar justru membuat kita merasa sendirian. Ketika banyak orang memilih diam, kita bersuara. Ketika kebanyakan orang merasa nyaman dengan keadaan, kita gelisah. Ketika kebenaran tidak lagi populer, mempertahankannya dapat membuat kita kehilangan penerimaan. Pada titik tertentu, kesetiaan bukan hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga kesediaan menanggung kesunyian.
Yeremia mengalami hal itu. Ia hidup di tengah masyarakat yang tidak ingin mendengar pesan yang dibawanya. Suara resmi dari istana dan Bait Allah menawarkan rasa aman: Yerusalem akan tetap berdiri karena Allah hadir di tengah umat-Nya. Namun, Yeremia membawa suara yang berbeda. Ia menyerukan bahwa kehancuran akan datang karena ketidakadilan, kesombongan, dan ketidaksetiaan kepada Allah. Karena itu, ia menjadi suara yang mengganggu kenyamanan zamannya.
Ironisnya, kesunyian Yeremia tidak hanya berasal dari manusia. Ia juga bergumul dengan Allah. “Mengapa penderitaanku tidak berkesudahan?” keluhnya. Bahkan Allah terasa seperti “sungai yang semu”, air yang tidak dapat diandalkan. Padahal sebelumnya ia berkata, “Ketika perkataan-perkataan-Mu ditemukan, aku menikmatinya. Firman-Mu itu menjadi kesukaan bagiku, dan sukacita hatiku.” Seorang nabi pun dapat mencintai firman Tuhan sekaligus merasa lelah, terluka, dan mempertanyakan panggilannya.
Penolakan yang terus-menerus akhirnya menguras daya tahan Yeremia. Iman tidak membuatnya kebal terhadap luka. Karena itu, keresahan yang dialami Yeremia bukan tanda bahwa ia gagal dalam iman. Keresahan tersebut lahir justru karena hatinya masih peka terhadap apa yang tidak beres. Namun, Allah tidak sekadar menenangkan Yeremia. Ia memanggilnya untuk kembali, “Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau.” Bahkan seorang pembawa firman tetap harus bersedia mendengarkan firman yang ditujukan kepadanya.
Sahabat Alkitab, mungkin ada masa ketika kesetiaan membuat kita merasa resah dan kesepian. Jangan buru-buru memadamkan keresahan itu. Bisa jadi Tuhan sedang menjaga nurani kita tetap menyala. Bawalah keresahan itu kepada-Nya, sebab kesetiaan tidak meniadakan rasa lelah dan pertanyaan. Tetaplah berjalan bersama Tuhan, bahkan ketika jalan yang kita tempuh terasa sunyi.
























