Ketika Kesetiaan Membuat Kita Sendirian

Renungan Harian | 22 Agu 2026

Ketika Kesetiaan Membuat Kita Sendirian

Ada kalanya melakukan apa yang benar justru membuat kita merasa sendirian. Ketika banyak orang memilih diam, kita bersuara. Ketika kebanyakan orang merasa nyaman dengan keadaan, kita gelisah. Ketika kebenaran tidak lagi populer, mempertahankannya dapat membuat kita kehilangan penerimaan. Pada titik tertentu, kesetiaan bukan hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga kesediaan menanggung kesunyian.


Yeremia mengalami hal itu. Ia hidup di tengah masyarakat yang tidak ingin mendengar pesan yang dibawanya. Suara resmi dari istana dan Bait Allah menawarkan rasa aman: Yerusalem akan tetap berdiri karena Allah hadir di tengah umat-Nya. Namun, Yeremia membawa suara yang berbeda. Ia menyerukan bahwa kehancuran akan datang karena ketidakadilan, kesombongan, dan ketidaksetiaan kepada Allah. Karena itu, ia menjadi suara yang mengganggu kenyamanan zamannya.


Ironisnya, kesunyian Yeremia tidak hanya berasal dari manusia. Ia juga bergumul dengan Allah. “Mengapa penderitaanku tidak berkesudahan?” keluhnya. Bahkan Allah terasa seperti “sungai yang semu”, air yang tidak dapat diandalkan. Padahal sebelumnya ia berkata, “Ketika perkataan-perkataan-Mu ditemukan, aku menikmatinya. Firman-Mu itu menjadi kesukaan bagiku, dan sukacita hatiku.” Seorang nabi pun dapat mencintai firman Tuhan sekaligus merasa lelah, terluka, dan mempertanyakan panggilannya.


Penolakan yang terus-menerus akhirnya menguras daya tahan Yeremia. Iman tidak membuatnya kebal terhadap luka. Karena itu, keresahan yang dialami Yeremia bukan tanda bahwa ia gagal dalam iman. Keresahan tersebut lahir justru karena hatinya masih peka terhadap apa yang tidak beres. Namun, Allah tidak sekadar menenangkan Yeremia. Ia memanggilnya untuk kembali, “Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau.” Bahkan seorang pembawa firman tetap harus bersedia mendengarkan firman yang ditujukan kepadanya.


Sahabat Alkitab, mungkin ada masa ketika kesetiaan membuat kita merasa resah dan kesepian. Jangan buru-buru memadamkan keresahan itu. Bisa jadi Tuhan sedang menjaga nurani kita tetap menyala. Bawalah keresahan itu kepada-Nya, sebab kesetiaan tidak meniadakan rasa lelah dan pertanyaan. Tetaplah berjalan bersama Tuhan, bahkan ketika jalan yang kita tempuh terasa sunyi.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia