Dalam peziarahan rohani atau spiritual kita, manakah yang paling sering memandu kehidupan kita. Apakah itu hasrat serta keinginan kita semata, atau kita meletakkan segala sesuatunya pada petunjuk serta kehendak Tuhan. Mampukah kita menerima dengan lapang dada saat kehendak Tuhan yang terjadi ternyata berbalik dengan kenyataan yang hendak kita realisasikan.
Mungkin itulah yang juga dirasakan oleh penduduk Yerusalem yang baru saja dikalahkan dan dibuang ke Babel. Pesan Allah melalui Yeremia terasa begitu berat untuk ditanggung. Maka demi menyenangkan hatinya, bangsa tersebut mencari nabi lain yang bersedia untuk bernubuat serta berkata-kata yang menyenangkan hati saja. Padahal bukan itu tugas dari seorang nabi. Seorang nabi mengabdi hanya kepada kebenaran yang datangnya dari Tuhan. Apakah beritanya baik atau tidak, bukanlah sebuah alasan.
Disinilah seharusnya setiap orang datang kepada-Nya dengan penuh kerinduan hati bukanya malah menyembunyikan diri dengan menolak memohon ampun atas dosa-dosa kita. Itulah yang diperbuat Ahab dan Zedekia, sosok yang meminjam suara Tuhan padahal yang ada ialah manipulasi terhadap umat.
Maka marilah kita memohon hikmat kepada Allah agar dalam hidup ini beserta laku spiritual yang kita jalani, agar Ia senantiasa menunjukkan selalu apa yang benar. Dari situlah kita dimampukan untuk membangun relasi dengan-Nya dengan penuh rasa syukur dan hormat. Bahkan di saat situasi kehidupan sedang tidak baik-baik saja. Semoga cinta kasih Tuhan menuntun kita semua.
























