Di tengah kehidupan masyarakat, kita kerap menyaksikan berbagai persoalan yang menuntut perhatian: ketidakadilan yang dibiarkan, penyalahgunaan kekuasaan, kekerasan terhadap kelompok rentan, atau hak-hak masyarakat yang diabaikan. Tidak jarang, persoalan semacam ini terus berlangsung bukan hanya karena ada orang yang melakukan kejahatan, tetapi juga karena mereka yang mengetahuinya memilih untuk tidak bersuara. Memang, diam tidak selalu berarti menyetujui. Ada orang yang bungkam karena takut atau merasa tidak berdaya. Namun, ketika kita memiliki kesempatan untuk mengingatkan, memilih untuk diam justru dapat membuat ketidakadilan terus berlangsung.
Persoalan tentang tanggung jawab untuk bersuara ini juga tampak dalam panggilan Yehezkiel. Allah menetapkannya sebagai penjaga bagi kaum Israel. Seorang penjaga bertugas memperhatikan keadaan dan memberikan peringatan ketika bahaya datang. Tugas ini tidak hanya berkaitan dengan ancaman dari luar, tetapi juga dengan tanggung jawab menjaga kehidupan iman dan etis umat di tengah tekanan budaya serta keagamaan Babel. Yehezkiel tidak boleh bersikap acuh ketika umat mulai menyimpang dari kesetiaan kepada Allah.
Tanggung jawab itu berlaku bagi orang fasik maupun orang benar yang mulai menyimpang. Sebab, orang yang pernah hidup benar pun dapat berbalik dari jalan kebenaran. Yehezkiel harus menyampaikan peringatan, meskipun ia tidak dapat menentukan bagaimana orang lain akan menanggapinya. Kesetiaannya sebagai penjaga tidak diukur semata-mata dari keberhasilan mengubah orang lain, melainkan dari kesediaannya menyampaikan kebenaran. Namun, bagian akhir teks menghadirkan sisi lain dari panggilan tersebut. Yehezkiel dibungkam dan hanya dapat berbicara ketika Allah membuka mulutnya. Kondisi ini sebagai penegasan bahwa nabi tidak boleh sembarangan mengumbar perkataan atau sekadar menyampaikan pendapat pribadi. Perkataannya harus berakar pada firman Allah.
Sahabat Alkitab, kita dipanggil untuk tidak berpaling ketika melihat ketidakadilan dan penyimpangan. Namun, keberanian bersuara juga perlu disertai kerendahan hati untuk menguji setiap perkataan. Jangan sampai kita diam ketika kebenaran perlu dibela, tetapi juga jangan sampai perkataan kita justru menambah kebisingan. Kiranya Allah menolong kita menjadi saksi yang berani menyuarakan kebenaran, sekaligus bijaksana dalam setiap perkataan.
























