Apabila kita menilik ulang perjalanan bangsa Israel bersama Tuhan, sejak awal sekali hingga pada konteks surat Ulangan 32 ini, maka kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa mereka memiliki banyak modal untuk memiliki pengenalan akan Tuhan. Modal tersebut berupa pengalaman puluhan tahun berinteraksi langsung bersama Tuhan, beragam peraturan yang diberikan oleh Tuhan sebagai panduan mereka membentuk peradaban sebagai umat-Nya, dan segala dialog yang menghasilkan komunikasi interaktif di antara keduanya. Namun, ternyata semua modal itu tidak serta-merta menghasilkan hubungan yang intim pada bangsa Israel.
Musa pun telah cukup keras melantunkan pernyataan, “Sebab mereka itu suatu bangsa tanpa pertimbangan, tidak ada pengertian pada mereka. Sekiranya mereka bijaksana, tentu mereka mengerti hal ini, dan memperhatikan kesudahan mereka.” Bagian dari nyanyian Musa pada perikop ini menggambarkan sebuah konsep penting dalam hidup beriman yang sangat perlu dipahami oleh umat Tuhan, tidak hanya bagi bangsa Israel melainkan juga bagi setiap umat-Nya di berbagai zaman. Pesan yang terkandung pada bagian ini berisikan kritik terhadap dampak hidup beriman dari bangsa Israel yang tidak sesuai dengan banyaknya modal pengenalan akan Tuhan yang telah mereka dapatkan. Kekeliruan dan kesesatan cara berpikir serta keputusan hidup mereka telah menjadi bukti dari minimnya pengenalan yang intim terhadap Tuhan itu sendiri.
Kepintaran kognitif dalam menjelaskan segala sesuatu secara deskriptif maupun kemampuan penguasaan banyak informasi yang berkaitan dengan sosok Tuhan tidak serta-merta menjamin kualitas hubungan yang intens dan intim bersama-Nya. Oleh sebab itu, kita perlu menyadari bahwa pengenalan akan Tuhan tidak dilakukan dalam anggapan bahwa kita memperlakukan-Nya sebagai objek penelitian dan pembelajaran kognitif, melainkan dalam kerinduan untuk menghasilkan relasi yang intim dengan Tuhan. Dengan kata lain, mengenal Tuhan tidaklah berhenti pada proses pemenuhan segala keingintahuan kognitif semata melainkan juga perlu disertai dengan ikatan perasaan dalam relasi bersama-Nya. Pengenalan inilah yang menjadi modal bagi kita untuk dapat terus menjalani hidup sebagai umat yang setia kepada-Nya.