Setiap kali terjadi bencana, kita mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Foto-foto rumah yang rusak, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, atau orang-orang yang harus mengungsi membuat kita ingin membantu. Ada yang berdonasi, membagikan informasi, bahkan berjanji akan terus memperhatikan mereka setelah keadaan membaik. Namun, beberapa minggu kemudian, ketika berita sudah berganti dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa, perhatian kita pun perlahan kembali kepada urusan masing-masing. Barangkali, persoalannya bukan karena kepedulian kita saat itu tidak tulus. Kita memang sungguh-sungguh ingin membantu. Namun, keadaan yang mendesak sering membuat sesuatu terasa jauh lebih penting daripada biasanya. Tantangannya muncul ketika keadaan mulai tenang: apakah kepedulian dan keputusan yang pernah kita buat masih tetap kita hidupi?
Yeremia 34:1-22 memperlihatkan persoalan yang serupa. Ketika Yerusalem dikepung Babel, Zedekia dan rakyat Yehuda membuat perjanjian untuk membebaskan budak-budak Ibrani. Mereka melaksanakannya, tetapi kemudian mengambil kembali orang-orang yang telah dibebaskan dan memperbudak mereka lagi. Padahal, pembebasan itu bukan gagasan baru. Tuhan mengingatkan bahwa nenek moyang mereka telah menerima perintah untuk membebaskan sesama Ibrani. Dalam krisis, mereka melakukan apa yang sebenarnya sudah mereka ketahui sebagai kehendak Tuhan.
Lalu, mengapa mereka berubah lagi? Ketika ancaman mereda, kepentingan dan kenyamanan kembali terasa penting. Membebaskan budak berarti kehilangan tenaga kerja yang selama ini mereka nikmati. Krisis membuat mereka bersedia melepaskan sesuatu, tetapi kenyamanan membuat mereka ingin mengambilnya kembali.
Sahabat Alkitab, krisis memang dapat membuat kita menata ulang prioritas. Kita mungkin berjanji menjadi lebih peduli, hidup lebih sederhana, atau meninggalkan kebiasaan yang tidak baik. Namun, ketika keadaan kembali nyaman, komitmen itu dapat perlahan melemah. Kesetiaan bukan hanya tentang keberanian mengambil keputusan ketika kita terdesak, melainkan tentang kesediaan mempertahankannya ketika tidak ada lagi keadaan yang memaksa kita. Sebab, sering kali, bukan krisis, yang menguji kesungguhan sebuah janji, melainkan kenyamanan setelah krisis berlalu.
























