Ketika Janji Diuji oleh Kenyamanan

Renungan Harian | 25 Sep 2026

Ketika Janji Diuji oleh Kenyamanan

Setiap kali terjadi bencana, kita mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Foto-foto rumah yang rusak, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, atau orang-orang yang harus mengungsi membuat kita ingin membantu. Ada yang berdonasi, membagikan informasi, bahkan berjanji akan terus memperhatikan mereka setelah keadaan membaik. Namun, beberapa minggu kemudian, ketika berita sudah berganti dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa, perhatian kita pun perlahan kembali kepada urusan masing-masing. Barangkali, persoalannya bukan karena kepedulian kita saat itu tidak tulus. Kita memang sungguh-sungguh ingin membantu. Namun, keadaan yang mendesak sering membuat sesuatu terasa jauh lebih penting daripada biasanya. Tantangannya muncul ketika keadaan mulai tenang: apakah kepedulian dan keputusan yang pernah kita buat masih tetap kita hidupi?

 

Yeremia 34:1-22 memperlihatkan persoalan yang serupa. Ketika Yerusalem dikepung Babel, Zedekia dan rakyat Yehuda membuat perjanjian untuk membebaskan budak-budak Ibrani. Mereka melaksanakannya, tetapi kemudian mengambil kembali orang-orang yang telah dibebaskan dan memperbudak mereka lagi. Padahal, pembebasan itu bukan gagasan baru. Tuhan mengingatkan bahwa nenek moyang mereka telah menerima perintah untuk membebaskan sesama Ibrani. Dalam krisis, mereka melakukan apa yang sebenarnya sudah mereka ketahui sebagai kehendak Tuhan.

 

Lalu, mengapa mereka berubah lagi? Ketika ancaman mereda, kepentingan dan kenyamanan kembali terasa penting. Membebaskan budak berarti kehilangan tenaga kerja yang selama ini mereka nikmati. Krisis membuat mereka bersedia melepaskan sesuatu, tetapi kenyamanan membuat mereka ingin mengambilnya kembali.

 

Sahabat Alkitab, krisis memang dapat membuat kita menata ulang prioritas. Kita mungkin berjanji menjadi lebih peduli, hidup lebih sederhana, atau meninggalkan kebiasaan yang tidak baik. Namun, ketika keadaan kembali nyaman, komitmen itu dapat perlahan melemah. Kesetiaan bukan hanya tentang keberanian mengambil keputusan ketika kita terdesak, melainkan tentang kesediaan mempertahankannya ketika tidak ada lagi keadaan yang memaksa kita. Sebab, sering kali, bukan krisis, yang menguji kesungguhan sebuah janji, melainkan kenyamanan setelah krisis berlalu.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia