Bagi sebagian anak-anak menghafal bukan merupakan hal yang mudah dan menyenangkan, apalagi jika harus menghafal ayat-ayat Alkitab yang ribuan jumlahnya. Maka tidak jarang dari mereka yang merasa enggan pergi ke sekolah minggu, karena biasanya mereka sering dilontari pertanyaan-pertanyaan seputar Alkitab, seperti :
• Berapa ukuran kapal Nuh?
• Bagaimana Umat Israel beribadah pada zaman perjanjian lama?
• Berapa jumlah pasal dan ayat dalam Alkitab?
Namun, kini anak-anak tidak perlu merasa risau dan takut lagi jika diberi pertanyaan oleh guru mereka, sebab dengan hadirnya produk terbaru dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), mereka bisa menemukan semua jawaban di dalamnya. Sebuah Alkitab yang sengaja didesain khusus untuk anak-anak, karena dilengkapi dengan gambar berwarna, indeks dan cerita Alkitab singkat yang dapat menambah keingintahuan anak-anak untuk mengetahui cerita Alkitab lebih lengkap.
Ini merupakan pengalaman pertama saya melintasi benua dalam menjalan tugas pelayanan di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Tujuannya ada untuk mewakili LAI, dalam UBS Book Fair yang diadakan di Hotel Protea, Stellenbosh, Cape Town 11-13 November 2009. Cape Town adalah kota terbesar kedua di Afrika Selatan setelah Johannesburg. Tahun 2010 Cape Town akan menjadi pusat perhatian pecinta sepak bola, karena menjadi salah satu kota yang akan menyelenggarakan FIFA World Cup. Jika diukur, maka jarak Cape Town kurang lebih 15.000 km dari Jakarta dengan waktu tempuh dengan pesawat kurang lebih 18 jam, di tambah transit 6 jam di dua tempat, Hongkong dan Johannesburg.
UBS Book Fair merupakan acara 2 tahunan yang digelar oleh UBS, sehingga Lembaga-lembaga Alkitab yang tergabung dalam UBS dapat menggelar produk-produknya, berupa Alkitab dan Bagian-bagiannya. Pada perhelatan UBS Book Fair 2009 mengambil tempat di Protea Hotel Stellenbosh, di daerah pegunungan yang hampir setiap hari tertutup awan, hujan dan kabut. Udaranya sangat dingin. Selama 5 hari di sana, saya hanya melihat matahari 2 hari, itupun hanya dua jam selebihnya hujan, berkabut dan berawan.
Dahulu kala transimis teks naskah-naskah atau kitab-kitab kuno dilakukan dengan tangan. Setiap huruf dan kata harus disalin satu per satu, yang merupakan suatu pekerjaan yang menjemukan dan meletihkan bagi penyalin. Teks Alkitab pun mengalami proses transmisi yang sama. Setiap kitab telah disalin dari aslinya dengan tangan, dan salinan-salinan tu disalin lag, kemudian salinan-salinan dari salinan-salinan itu disalin lagi dan seterusnya pekerjaan penyalinan dengan tangan berlangsung sampai pada masa adanya percetakan.
Berteologi bagi sebagian orang awam adalah hal yang sangat membosankan. Mengingat jika kita sudah bicara teologi, otomatis akan berkaitan dengan urusan keagamaan, keyakinan dan ke-Tuhan-an. Biasanya para teolog menganalis dan berargumen untuk mendiskusikan, menafsirkan dan mengajarkan hal yang berkaitan dengan tradisi keyakinan, keagamaan dan keTuhanan. Meskipun teologi dapat dipelajari, namun tidak banyak orang tertarik untuk menekuninya.
Di zaman dahulu, orang Yahudi bersama orang bukan Yahudi yang takut kepada Tuhan, tiap tahun berkumpul di Pulau Faros di Laut Tengah guna mengadakan perayaan syukur atas tersedianya Alkitab dalam bahasa yang mereka mengerti. Demikian catatan Philo, sejarawan Yahudi kenamaan dari Aleksandria yang hidup pada abad pertama Masehi. Alkitab yang dimaksud adalah Alkitab Septuaginta, yakni Alkitab bahasa Yunani yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani.
Orang-orang Yahudi di perantauan, di wilayah-wilayah sekeliling Laut Tengah, sudah tidak mengerti lagi bahasa Ibrani dan sudah memakai bahasa Yunani, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam komunikasi tertulis. Pembacaan Alkitab di rumah-rumah ibadah Yahudi dilakukan dalam bahasa Ibrani, namun diterjemahkan secara lisan oleh seorang turgeman (band. kata “terjemah”) agar dimengerti jemaat. Terjemahannya pada mulanya dilakukan dalam bahasa Aram, seperti dapat kita baca dalam Nehemia 8:8 BIMK (pada Alkitab TB Neh. 8: 9), tetapi di kemudian hari juga ke dalam bahasa Yunani.
Tak heran, bahwa Alkitab yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani tersebut disambut begitu meriah, sebab umat Allah sekarang dapat membaca dan mendengar Firman Allah dalam bahasa yang dimengerti. Alkitab Septuaginta ini menurut legenda diterjemahkan atas perintah Raja Ptolomeus II pada abad ketiga sebelum Masehi untuk memperkaya khasanah perpustakaan Aleksandria yang termasyur di dunia purba. Tujuh puluh penerjemah dikucilkan selama 70 hari, masing-masing dalam kamarnya sendiri, sehingga tidak dapat saling berkomunikasi.