//
NewsDonationShopAbout Our SocietyContact UsLink
Main Menu
Home
Biblika
Library
Email Today
News
FAQs
Shop
Alkitab Web
Guest book
Shop
Bible Testament Bible Portion
Live Support
LAI Info

Product Info

Product Info






Lost Password?
No account yet? Register
Latar Belakang Budaya Alkitab Perjanjian Lama Print E-mail
Friday, 13 November 2009

LATAR BELAKANG BUDAYA ALKITAB PERJANJIAN LAMA

Oleh: Dr. Hermogenens Ugang

Pendahuluan

Yang dimaksudkan dengan budaya Alkitab Perjanjian Lama ialah budaya manusia yang hidup di zaman di mana peristiwa-peristiwa yang tertulis dalam Alkitab Perjanjian Lama terjadi. Secara khusus dapat dikatakan bahwa manusia yang dimaksud ialah bangsa Israel atau lebih khusus lagi, bapak-bapak leluhur bangsa Israel seperti Abraham, Ishak dan Yakub. Yang termasuk juga dalam bahasan ini ialah bangsa-bangsa di sekitar Israel seperti Mesir, Asyur, Babilonia, Elam, Goyim, dan lain-lainnya yang pernah ada kontak dengan bangsa Israel. Tentu saja peristiwa-peristiwa yang terjadi pada zaman itu kita coba untuk mengungkapkannya sebagai peristiwa sejarah walaupun penulis Alkitab sendiri melihatnya sebagai peristiwa dan moral mengandung nilai-nilai rohani yang memberikan nilai-nilai etis dan moral bagi kehidupan bangsa Israel.

Maksud dari tulisan ini ialah untuk menggambarkan peri kehidupan bangsa-bangsa tersebut di atas pada zaman Perjanjian Lama sejak zaman leluhur bangsa Israel (kira-kira 1900 tahun s.M) [1] sampai kedatangan Kristus di zaman Perjanjian Baru (awal abad pertama). Dengan memberikan gambaran seperti itu diharapkan para pembaca Alkitab dapat memahami ungkapan-ungkapan dalam Alkitab yang kedengarannya mungkin asing. Misalnya kalau kita baca ayat dari Yosua :6, 8 dalam Alkitab Terjemahan Baru (Alkitab TB) terdapat cerita tentang Rahab yang menyembunyikan dua orang intel Israel di atas "sotoh rumah"nya (atap rumahnya). Juga dalam Matius 10:27 dikatakan, "apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah." Secara sepintas lalu kita akan merasa aneh dan pasti bertanya mengapa harus memberitakannya dari atas atap rumah? Kalau  kitai ngat akan atap rumah kita, maka hal itu aneh untuk dilakukan. Tetapi menurut budaya rumah bangsa Israel, atau budaya bangsa-bangsa di sekitar bangsa Israel hal itu mungkin saja terjadi karena rumah orang di wilayah itu berbentuk kotak dan atapnya datar sehingga bisa dipakai untuk melakukan banyak macam kegiatan. Untuk mencapai maksud tersebut, mau tidak mau kita juga meneliti banyak hal yang dikatakan dalam studi tentang purbakala (arkeologi) Alkitab.

LELUHUR ISRAEL

1. Abraham dan Keluarganya

Kehidupan masyarakat di zaman ini ditandai dengan cara hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari lahan tempat memelihara ternak ataupun bercocok tanam. Cara hdup berpindah-pindah ini mengingatkan kita kepada Abraham setelah ia dipanggil oleh Tuhan untuk meninggalkan sanak keluarganya di Haran dan pergi ke tempat lain yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya. Ternyata kemudian bahwa Abraham dengan keluarganya tiba di sebuah pohon kayu keramat di More dekat Sikhem di tanah Kanaan. Ini berarti bahwa Abraham telah menelusuri wilayah "bulan sabit" dari Timur ke arah Barat, suatu perjalanan panjang yang kemudian hari juga pernah dijelajah oleh Yakub cucu Abraham, dan oleh orang Cendikiawan dari Timur yang menjajagi kelahiran Tuhan Yesus.

Pohon kayu keramat tadi disebut demikian (terbantin: TB) karena dahulunya pohon kayu itu dipakai oleh orang Kanaan untuk menyembah dewa mereka.[2]  Tetapi Abraham mendirikan mezbahnya di tempat itu untuk menyembah Tuhan. Di zaman itu mezbah dipakai orang untuk tempat memotong hewan yang dikurbankan bagi yang disembah sehingga cara-cara Abraham menyembah Tuhan tidak ubahnya dengan cara-cara orang Kanaan menyembah dewa mereka. Pandangan para leluhur Israel terhadap Tuhan pun sama saja dengan pandangan orang-orang Kanaan dengan dewa mereka. Tuhan adalah pelindung atau perisai (Kej. 15: 1) yang selalu menjaga para leluhur dari segala macam bahaya dan memberikan kepada mereka harta kekayaan yang mereka perlukan. Semakin kaya sang leluhur berarti semakin banyak pula berkat material yang diberikan kepada mereka (lih. Mzm. 128, 144). Walaupun kelihatannya ada kesamaan cara ibadat antara Abraham dengan bangsa-bangsa lain, namun ada perbedaan besar antara Allah Abraham dengan dewa bangsa-bangsa lain yaitu, bahwa dewa-dewa atau ilah-ilah bangsa-bangsa lain adalah ilah lokal yang hanya bisa disembah di tempat tertentu saja, sedangkan Allah Abraham adalah Allah yang tidak terikat dengan suatu tempat sehingga Ia bisa disembah di mana-mana tempat.

Abraham yang disuruh pergi oleh Tuhan dari rumah orang tuanya di Haran, tidak pergi sendirian tetapi pergi bersama-sama dengan kaum kerabatnya dan hamba-hambanya. Termasuk dalam kafilah Abraham itu ialah kemanakannya sendiri yang bernama Lot. Peranan Abraham dalam rombongan besar itu ialah sebagai seorang kepala suku dan juga kepala adat. Dan juga panglima perang yang mengatur sasat perang untuk mengalahkan musuh. Tentu saja cara hidup berpindah-pindah (nomadisme) ini memerlukan ketangguhan yang istimewa dan mental disiplin yang tnggi. Abraham dalam hal ini mengandalkan kekuatan dari Tuhan yang menjadi Pelindungnya. Dalam Alkitab dikatakan bahwa Allah itu adalah "Allah yang dipuja Abraham dan Ishak" (Kej. 28:13) . Kemudian hari, di kalangan orang Israel sendiri Allah itu juga yang dikenal sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub.[3] Setelah Israel resmi menjadi satu bangsa sama seperti bangsa-bangsa lain di sekitar mereka, maka Allah ini juga yang menjadi Allah Israel (Yer. 31:33; Yeh. 37:27; Hos. 2:23).

2. Kontak Dengan Suku Bangsa Lain

Selama hidup mengembara di kawasan "bulan sabit" yang subur ini, Abraham dan keluarganya serta kaum kerabatnya telah mengalami kontak sosial dengan suku-suku bangsa lain entah dengan sengaja atau tidak sengaja, entah karena terpaksa atau secara sukarela. Diantara sekian banyak kontak yang terjadi, Kitab Kejadian mengisahkan antara lain tentang pertemuan Abraham dengan raja Mesir (Kej. 12:10-20). Menurut tradisi kuno bangsa Israel, ceritera ini seyogyanya mengenai Ishak, namun kemudian di wilayah selatan cerita ini dikembangkan sedemikan rupa lalu menyebut Abraham sebagai primadona cerita itu. Suatu kecenderungan untuk menempatkan Abraham pada titik pusat perhatian umat dan menempatkan martabat dan derajatnya setara dengan raja Mesir yang basa disebut Firaun.

 

Istilah Firaun sendiri mempunyai arti yang khusus pula karena nama itu berasal dari bahasa Akadia pir'u yang berarti Balai Agung.[4] Karena pada zaman itu raja yang memerintah suatu negeri biasanya bersemayam di Bala Agung, maka istilah Balai Agung itu sendiri kemudian berkembang menjadi gelar sang raja. Jadi kalau kita membaca istilah Firaun dalam Alkitab terutama Alkitab Perjanjian Lama, maka kita membaca tentang seorang raja penguasa yang bersemayam di Balai Agung. Cara memberi gelar kepada raja seperti itu mirip-mirip dengan cara kita orang Indonesia dari Jawa memberikan gelar kepada para Sultan d Jawa Tengah sepert Sultan Paku Alam di Surakarta dan Sultan Hamengkubuwono di Yogya di mana nama gelar kemudian berkembang menjadi nama pribadi.

Pertemuan Abraham dengan Firaun ini sangat penting untuk memperlihatkan Abraham sebagai leluhur bangsa Israel yang mempunyai identitas tersendiri. Dari Abrahamlah kemudian hari muncul suatu bangsa yang besar yang tidak lebih rendah martabatnya dari bangsa Mesir. Sebaiknya kita ketahui juga bahwa pada zaman Abraham, justru Firaun raja Mesir itu dipandang sebagai lambang kejayaan dan keemasan bangsa Mesr di wilayah "bulan sabit" yang subur itu. Banyak raja-raja Mesir yang digelar Firaun itu menyandang nama-nama pribadi yang mentereng dan masing-masng mempunyai makna tersendiri. Misalnya Raja Firaun yang bernama Ramses artinya "yang dilahirkan oleh Dewa Ra" (Ra adalah dewa matahari). Atau Raja Firaun yang bernama Amenhotep artinya "Dewa Amon yang dipuaskan."

 

Raja-raja lainnya yang pernah kontak (secara militer) dengan Abraham ialah empat raja masing-masing dari Elam, Goyim, Babilonia dan dar Elasar (Kej. 14). Tadinya empat raja ini berperang melawan raja-raja Sodom, Gomora, Adma, Zeboim dan Bela dan kelima raja terakhir itu dapat dikalahkan. Harta benda dan penduduk Sodom dan Gomora dirampas dan dibawa sebagai tawanan termasuk didalamnya Lot kemanakan Abraham. Mendengar akan hal itu Abraham dengan anak buahnya sebanyak 318 orang maju dan mengejar empat raja yang menawan Lot dan berhasil merebut kemanakannya itu dari tangan mereka. Demikian juga barang-barang mereka dapat direbut kembali. Rupanya sejak itulah nama Abraham semakn dikenal dan disegani di wilayah bulan sabit itu.

 

PERKEBUNAN

Di zaman leluhur ini maupun di zaman berikutnya (di zaman raja-raja), ada tiga hasil perkebunan yang utama yaitu, anggur, pohon zaitun dan gandum. Sebagaimana tertulis dalam Alkitab, ketiga jens hasil perkebunan ini mempunyai peranan penting dalam kehidupan orang Israel baik secara sekuler maupun secara rohani (keagamaan).

Pada zaman Perjanjian Lama anggur diusahakan sebagai tanaman perkebunan yang menjad salah satu sumber penghasilan yang sangat menguntungkan secara material (keuangan). Nuh adalah petani kebun anggur yang pertama (Kej. 9:20). Di zaman raja-raja kita mendengar cerita tentang Raja Ahab yang ingin membeli kebun anggur Nabot tetapi Nabot tidak mau menjualnya (1Raj. 21:1-4). Rupa-rupanya pengusahaan anggur adalah permulaan dari peradaban manusia[5]  karena ada bukti-bukti bahwa anggur sudah diusahakan di Mesir sebelum zaman dinasti Mesir. Berhubung anggur adalah tanaman kesayangan di zaman purbakala, maka Israel diumpamakan sebagai kebun anggur pilihan Tuhan yang dibawa dari Mesir dan ditanam oleh Tuhan (Mzm. 80:8-13). Walaupun Israel adalah anggur  pilihan, namun ia bisa juga berubah menjadi "anggur hutan" (Yer. 2:21; Yes. 5:1-7; Hos. 10:1). Sama halnya dengan batang dan dahan, anggur berguna sebagai kayu bakar bagi kaum ibu yang memasak di dapur, demikian pula Israel cocok untuk dibumihanguskan. Namun waktunya akan datang bilamana Israel diampuni maka keadaannya sama seperti Israel yang "dihadiahkan kebun anggur" yang berarti bahwa setiap situasi yang melimpah ruah material itulah pertanda bahwa Allah berkenan kepada umat-Nya.

Dalam Perjanjian Baru Yesus sering memakai kebun anggur sebagai perumpamaan. Ia membandingkan Kerajaan Allah dengan karyawan seharian, setengah harian dan bahkan satu jam saja; namun masing-masng menerima upah yang sama (Mat. 20:1-16). Orang Yahudi digambarkan sebagai para penggarap yang disuruh pemiliknya untuk menggarap kebun anggurnya. Namun para penggarap itu diumpamakan sebagai penjahat karena mereka memukul orang-orang yang dikirim pemilik kebun anggur (Allah) untuk mengumpulkan buah-buahnya. Malahan akhirnya para penggarap yang jahat itu membunuh anak pemilik kebun (Kristus) supaya mereka bisa menguasai kebun itu. Tentu saja para penggarap itu dihukum mati dan kebun anggur disewakan kepada orang-orang lain (orang Krsten; Mat. 21:33-43).

Kebun anggur menjadi terkenal sebagai sumber penghasilan yang laris karena air anggurnya dipakai untuk berbagai jenis keperluan. Selain keperluan hidup sehari-hari (minuman) air anggur dipakai juga dalam pesta (banquet) untuk minuman. Ada kalanya air anggur termasuk bahan yang disediakan untuk upeti kepada penguasa atau hadiah kepada atasan. Misalnya Abigail dan Ziba membawa kirbat air anggur kepada Daud (1Sam. 25:18; 2Sam. 16:1). Sehubungan dengan itu semua, anggur telah menjadi bahan komoditi yang laris dalam perniagaan.

Selain diminum, anggur juga dipakai sebagai bahan medis. Ia dapat membangkitkan kembali orang yang pingsan (2Sam. 16:2) dan biasanya dilukiskan  sebagai penolong pencernaan "... minumlah sedikit anggur untuk menolong pencernaanmu..." (1Tim. 5:23). Dalam Luk. 10:34 diceritakan tentang orang Samaria yang baik hati yang membersihkan luka-luka orang yang diserang penyamun dengan air anggur.

Anggur juga dipergunakan dalam kurban dan persembahan. Walaupun anggur bisa dipersembahkan kepada dewa (Ul. 32:37-38; Yes. 57:6; 65: 11; Yer. 7:18; 19:13 dst.), namun hal itu tidak menjadi halangan untuk mempergunakan anggur dalam upacara agama ortodoks. Pada asalnya yang dipersembahkan kepada dewa bukanlah anggur melainkan darah. Namun kemungkinan untuk mengganti darah dengan anggur bisa terjadi karena para penyembah memperlakukan anggur sebagai darah. Dalam 1Sam. 1:24; 10:3, diberitahukan kebiasaan para penyembah membawa sekantong anggur bilamana mereka pergi berziarah ke bait Allah. Bagaimanapun juga, anggur tidak selalu dipersembahkan tersendiri tetapi selalu disertai dengan seekor anak domba, tepung, minyak atau gabungan dari semuanya itu (Kel. 29:40; Im. 23:13; Bil. 15:7, 10; 28:14).

Pohon zaitun juga merupakan sumber hasil pertanian yang sering berdampingan dengan anggur. Sama seperti anggur, buah zaitun bukan hanya dimakan atau untuk keperluan sehari-hari, tetapi juga untuk keperluan ritual keagamaan. Karena itu zaitun merupakan komoditi perdagangan yang sangat laris. Pohon zaitun bertumbuh sangat banyak di bagian-bagian pedalaman negeri Kanaan. Terutama pada waktu orang Israel tiba di sana, pohon zaitun telah menjadi salah satu daya tarik negeri itu sebagai negeri yang berlimpah ruah dengan kekayaan alam dan hasil pertaniannya.5a Dalam Kitab Hakim-hakim 9:8-9 pohon zaitun dpakai oleh Yotham sebaga perumpamaan untuk calon raja Israel yang akan memerintah Israel. Pohon zaitun menjawab, "Ah hasilkan minyak ..." Pada zaman Alkitab, minyak zaitun merupakan produksi industri yang sangat penting. Hal ini terbukti dengan adanya tempat-tempat pemerasan buah zaitun di berbagai tempat tertentu di Palestina walaupun di tempat-tempat itu tidak terdapat kebun zaitun.

Rupanya sejak dari zaman awal, pohon zaitun sudah dkenal dalam kehidupan umat manusia. Hal itu terbukti dalam cerita air bah di Kej. 8:11 di mana diceritakan tentang burung merpati yang membawa daun zaitun pada paruhnya. Sejak itu burung merpati yang digambarkan dengan daun zaitun pada paruhnya telah menjadi lambang perdamaian dan persaudaraan.[6] 

Dari tengah-tengah tanah Palestina terus ke Selatan terdapat sebuah perbukitan yang bernama Bukit Zaitun, panjangnya kira-kira dua setengah mil atau empat km. Bukit itu dinamakan demikian karena di atasnya terdapat rumpunan pohon-pohon zaitun yang mahaluas. Melalui puncak bukit inilah Raja Daud pernah melarikan diri dari pemberontakan Absalom anaknya sendiri (2Raj. 15:30-37). Dalam nubuatnya mengenai Yerusalem dan bangsa-bangsa, Nabi Zakharia menyebut nama Bukit Zaitun sebagai tempat Allah berdiri untuk menghukum bangsa-bangsa dan menyelamatkan Yerusalem (Za. 14:1-21).

Bukit Zaitun semakin terkenal di Perjanjian Baru karena Tuhan Yesus melakukan banyak kegiatan di sana pada minggu terakhir masa hidupnya di dunia ini. Dalam serangkaian naskah Perjanjian Baru, nama Bukit Zaitun disebut-sebut sehubungan dengan masuknya Yesus dengan kemenangan ke kota Yerusalem hanya enam hari sebelum Paskah (kematian-Nya). Rupanya Yesus bersama para pengikut-Nya berangkat dari Betani, sebuah desa di sebelah timur Bukit Zatun, terletak di dekat el-Azarieh, boleh jadi di sebelah barat dari desa modern itu. Mereka berangkat dari sana melalu Betfage, suatu tempat pemukiman yang tidak lagi diketahui dengan pasti letaknya. Penuturan Injl Sinoptis memberi petunjuk yang bisa diambil sebagai perkiraan bahwa tempat itu bisa disamakan atau berlokasi di sekitar Kefr-el-tur (Mat. 21:1; Mrk. 11:1).

Yesus pernah menubuatkan keruntuhan kota Yerusalem dan tentang kematian-Nya sendiri, diucapkan-Nya di atas Bukit Zaitun (Mat. 24:3; Mrk. 13:3-4; Luk. 21:5 dst.). Itu adalah gema kata-kata yang pernah diucapkan oleh Nabi Zakhara dalam Za. 14:1-5 yang menunjuk kepada bukit tu sendiri. Cerita tentang seorang pelacur yang tertangkap basah dan dibebaskan oleh Yesus (Yoh. 8:1-11) adalah terjadi secara jelas di Bukit Zaitun.

Pada hari-hari pekan terakhir sebelum Ia ditangkap, Yesus mengunjungi Rumah Tuhan di Yerusalem dan setelah itu pada malam hari Ia kembali ke Bukit Zaitun. Perkiraan-perkiraan yang mungkin adalah di Betani, di rumah Simon yang berpenyakit lepra (Mat. 26:6; Mrk. 14:3), atau di lokas sebidang tanah (estate) di Getsemane yang bisa juga dikatakan sebagai Taman Getsemane (Yoh. 18:1)[7]

Menurut La Mar C. Barrett, salah satu dar puncak Bukit Zaitun ini adalah tempat di mana Yesus naik ke surga meninggalkan para pengikut-Nya.[8] (Lihat Luk. 24:50-53; Kis, 1:9-12). Salah satu tempat di mana biara Kristen yang paling suci telah didirikan di tempat ini adalah tempat yang diperkirakan terdapat bekas kaki Yesus yang ditinggalkan sebelum Ia naik ke surga.

Sama seperti zaitun, tanaman gandum, adalah tanaman sejak dari dahulu kala seperti yang ditunjuk dalam Kej. 30:14; Kel. 34:22; Hak. 15:21).[9] Tanaman ini terdapat di mana-mana di Palestina untuk menyediakan roti bagi penduduknya. Gandum tumbuh lebih baik di tanah rendah yang diairi dengan irigas ketimbang jewawut (jelai) yang (serumpun jenis dengan gandum) lebih suka tumbuh di tanah yang lebih kering. Baik jewawut maupun gandum tumbuh bersama secara bertetangga (berlainan lahan tetap saling berbatasan). Hal ini pernah terjadi pada zaman Ruth di mana kedua tanaman itu tumbuh dekat Betlehem (Rut 2:23).[10] Sama seperti musim panen hasil pertanian lainnya, bahkan orang miskin (para janda, anak yatim, orang asing, dsb. yang tidak mempunyai lahan untuk bertani) lebih diperhatikan kepentingannya untuk memungut gandum yang tersisa ataupun yang sengaja disisakan dalam lahan panen (Ul. 24:19-22).

Bertolak dari perumpamaan Yesus tentang penabur (Mat. 13:3-9), benih tanaman ditabur ke tanah tentu saja tidak semuanya jatuh ke tanah yang baik dan tertutup dengan tanah. Ada diantaranya yang jatuh sia-sia tanpa bisa diharapkan hasilnya karena tidak akan bertumbuh di antara tanah yang berbatu-batu atau di pinggir jalan. Yang jatuh di pinggir jalan nantinya akan dimakan burung dan yang jatuh di semak-semak duri pasti tak akan bisa bertumbuh.  Tetapi bilamana yang jatuh ke tanah subur lalu bertumbuh dengan baik, maka anak-anak keluarga petani yang bersangkutan akan dipekerjakan untuk menjaga buah-buah gandum itu nanti dari serangan burung-burung pemakan buah gandum. Pekerjaan itu tentu saja sangat melelahkan karena sama seperti penjaga ladang yang harus bekerja seperti orang-orangan yang berjemur di tengah-tengah ladang.

Bila musim panen tiba, maka gandum dituai dengan pemotong gandum dan biji-biji gandum yang dituai itu dijemur kemudian ditaruh di tempat pengirikan untuk memisahkan biji-biji gandum dari tangkainya dan dari gabahnya. Tempat  pengirikan dipilih tempat yang rata dan bebas supaya angin bisa dengan bebas menghembus membersihkan biji-biji gandum dari gabahnya waktu petani menebarkan biji-biji itu ke udara. Dalam Alkitab, tempat pengirikan sepert itu sangat terkenal misalnya tempat pengirikan yang dibeli oleh Raja Daud dari Arauna (2Sam. 24:18-25). Waktu Raja Daud mendapat kembali peti perjanjian dari orang Filistin, lembu yang menarik kereta peti itu terjatuh di tempat pengirikan milik Nakhon. Waktu Uza mencoba mau menegakkan kereta itu maka ia langsung meninggal (2Sam. 6:6 dst.)

Bilamana jumlah gandum yang diirik tidak terlalu banyak, maka cukuplah ia diirik dengan sepotong tongkat dengan memukul-mukul tongkat itu pada berkas-berkas gandum. Tetapi kalau jumlahnya besar, maka ia harus diirik dengan membiarkan hewan menginjak-injaknya, dan orang tidak dibolehkan memberangus mulut lembu yang sedang mengirik gandum supaya ia dapat makan gandum itu sementara ia bekerja.[11]  Lihat Ul. 25:4. Pengirikan itu melepaskan biji-bji gandum dengan tangkainya di lantai pengirikan. Pada waktu petang atau pagi, di mana terjadi angin bertiup, maka para petani mengambil garpu kayu yang besar untuk dipakai buat menebarkan tangkai-tangkai jerami dan biji-biji gandum ke udara, dan pekerjaan ini dinamakan menampi. Biji-biji gandum yang berat jatuh ke lantai dan tangkai serta gabah yang ringan akan ditiup ke bagan sebelah dari lantai pengirikan. Kemudian biji-biji gandum dikumpulkan dan disimpan, dan pada waktunya kemudian dibuatkan tepung untuk adonan yang akan dibakar.

Pada musim panen orang biasanya berpesta pora karena masyarakat bergembira di musim panen. Saat-saat itu sangat menentukan karena masyarakat sudah menyimpan panennya untuk masa berbulan-bulan berikutnya sementara masa membanting tulang sudah berakhir. Pekan-pekan pesta-pora (yang kemudian dikenal sebagai Pentakosta) dilaksanakan untuk merayakan panen gandum. Hari Raya Pentakosta dalam Gereja berasal dari peristiwa itu. Di Barat pesta panen seperti itu dirayakan oleh Gereja-gereja tetapi di Indonesia pesta panen memang dirayakan sejak zaman leluhur. Hal itu terutama terjadi di desa-desa sedangkan d kota-kota besar peristiwa seperti itu sudah tidak kelihatan lagi. Namun ide tentang musim panen dan pesta panen sudah menjadi tradisi bangsa Indonesia [12] sehingga bilamana Yesus dan para rasul berbicara tentang musim panen untuk menggambarkan saat akhir zaman atau akhir sejarah umat manusia, maka umat orang percaya di Indonesia langsung bisa memahaminya tanpa terlalu banyak menafsir. Dalam Markus 4:26-29 Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah sama seperti orang yang menabur benih, menunggunya bertumbuh dan kemudian menyabitnya. Dalam kitab Wahyu 14:14-16 Yohanes melihat seseorang ‘ "seperti anak manusia" dengan mahkota emas di kepalanya dan sabit yang tajam di tangannya.'  Lalu suatu suara berseru, "Ambillah sabitmu dan tuailah, karena masa untuk menuai sudah tiba, dan panen bum sudah masak."

PETERNAKAN: DOMBA

Sejak zaman purbakala ternak adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan para kepala suku. Bahkan sampai pada zaman modern ternak jenis domba sangat berlimpah di tanah suci Palestina.[13] Orang-orang Arab di tanah suci Alkitab ini dalam hdupnya sehari-hari sangat tergantung dari penghasilan ternak domba selama berabad-abad. Gambaran yang dapat diperoleh dari Alkitab tentang banyaknya ternak domba ini kita temui dalam Ayub 42:12 di mana dikatakan bahwa Ayub mempunyai 14.000 ekor domba sebagai tanda bahwa ia pernah menjadi seorang yang kaya raya. Kemudian pada waktu Raja Salomo meresmikan Rumah Tuhan di Yerusalem, ia mengorbankan 120.000  ekor domba (1Raj. 8:63). Ternak domba ini dijaga oleh gembala atau para gembala. Menurut kebiasaan orang Arab, anak lelaki yang termuda dalam keluarga adalah gembala domba, khususnya bilamana yang bersangkutan adalah seorang petani gandum dan seorang gembala. Bila ia sudah besar maka tugas gembalanya dilepaskannya kepada anak lelaki yang lebih muda karena ia harus memakai tenanganya untuk pekerjaan lain yaitu menolong orang tuanya menanam, membajak dan menuai hasil panen.[14]  Rupanya hal seperti itu dianut juga oleh orang Israel dan terjadi pada diri Daud. Dalam Mazmur 23 digambarkan tentang Tuhan sebagai gembala bagi domba-domba-Nya (umat-Nya). Alat-alat gembala yang disebut di sana adalah gada dan tongkat (ayat 4b). Gada ini digunakan untuk melindungi domba-dombanya dari binatang buas (lih. 1Sam. 17:34-36) sedangkan tongkat digunakan untuk perlindungan.[15]  Alat lain yang dimiliki oleh gembala ialah seruling. Alat ini merupakan sebuah alat musik bersuara merdu, cocok dibunyikan waktu santai di padang untuk melepas lelah sang gembala dan memberi rasa segar kembali kepada para domba. Bukannya tidak mungkin bahwa Daud sebagai seorang gembala pun mempunyai alat musik seperti ini.[16]

Antara gembala dan domba terjadi hubungan yang akrab dan mereka saling mengenal satu dengan yang lain. Khususnya gembala, bisa mengenal suara setiap dombanya, karena ia mempunyai perhatian yang sungguh-sungguh terhadap setiap anggota dombanya. Sering kali gembala ini memberikan nama bagi setiap domba sehingga masing-masng bisa dipanggil dengan namanya sendiri. Misalnya ada yang diberi nama "Si Putih" atau "Si Belang" atau kalau bulu dombanya hitam dipanggl "Blacky" atau lainnya lagi dipanggil "Broony" karena bulunya coklat (brown). Gembala-gembala Israel biasanya memimpin domba-dombanya dengan berjalan mendahului mereka. Terutama kawanan dombanya tidak terlalu besar, ia berjalan mendahului mereka di depan supaya melindungi mereka dari binatang-binatang buas yang ingin memangsai mereka. Tetapi hal itu tidak selalu demikian karena bilamana kawanan dombanya besar, maka ia akan berjalan di belakang kawanan dombanya. Bilamana kawanan dombanya terlalu besar, biasanya gembala mempunyai pembantu gembala yang disuruh berjalan di belakang kawanan domba sedangkan gembalanya sendiri akan berjalan di depan.[17] 

Hubungan akrab antara gembala dengan domba-dombanya kelihatan sekali bila ia memimpin mereka berjalan melalui suatu jalan sempit. Mazmur 23:3 mengatakan "Ia menuntun aku di jalan yang benar" artinya Ia menuntuk supaya tidak menyimpang dari jalan yang seharusnya ditempuh. Jalan sempit seperti itu terutama terdapat di tengah-tengah ladang sehingga bilamana domba-domba itu menyimpang dari jalan, mereka akan memakan butir-butir gandum di sebelah kanan-kiri jalan dan merusak tanaman yang ada. Kerugian yang diakibatkan oleh domba-domba itu harus diganti oleh gembala yang bersangkutan.

Adalah penting juga diketahui bahwa gembala harus setap saat memperhatikan domba-dombanya supaya jangan sampai ada yang hilang tersesat karena terpisah dari kawanannya. Domba (domba-domba) yang terpisah dari kawanannya akan kebingungan dan tidak mempunyai perasaan sama sekali tentang tempat lokasi sehingga perlu dicari dan dibawa kembali ke kawanan domba. Domba yang sesat bisa diambil menjadi ibarat jiwa yang sesat seperti dalam Mazmur 199:176 "Aku sesat seperti domba yang hilang" (TB/BIS) atau seperti dalam Yesaya 53:6 dikatakan, "Kita sekalian sesat seperti domba" (TB) mengembik-embik ketakutan karena ia berkelana tanpa gembala. Tetapi bilamana ia dibawa kembali oleh gembalanya ke kawanan domba, maka ia akan meloncat-loncat kegirangan dan rasa girang seperti inilah yang digambarkan dalam Mazmur 23:3 "Ia menyegarkan jiwaku" (TB), "Ia memberi aku kekuatan baru" (BIS).[18]

Dalam pekerjaan penggembalaan ada dua petugas yang bisa dibedakan satu dari yang lain. Seorang adalah gembala itu sendiri dan seorang lagi adalah orang upahan. Mengenai orang upahan ini Yesus pernah mengatakan, "Orang upahan itu lari, sebab ia bekerja untuk upah" (Yoh. 10:13,  BIS). Orang upahan ini tidak diperlukan kalau kawanan domba yang digembalakan itu kecil saja. Tetapi kalau kawanannya besar, maka ia memerlukan orang upahan untuk membantunya. Orang ini tidak tertarik pada domba-domba yang digembalakan sehingga ia tidak selalu bisa dipercayai sepenuhnya seperti halnya dengan gembala. "Orang upahan yang bukan gembala dan bukan juga pemilik domba-domba itu, akan lari meninggalkan domba-domba kalau ia melihat serigala datang. Maka domba-domba itu akan diterkam dan dicerai-beraikan serigala" (Yoh. 10:12, BIS).[19]

BANGUNAN RUMAH DAN KONSTRUKSINYA

Walaupun orang Israel tidak memiliki seni bangunan atau arsitektur yang mengagumkan seperti halnya bangsa-bangsa Romawi dan Yunani, namun kita perlu mempelajari sarana tempat tinggal atau kediaman mereka supaya bisa mengerti tata cara serta peri kehidupan mereka sehari-hari. Tempat kediaman mereka yang paling kuno adalah kemah. Ini sesuai dengan cara hidup mereka yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Abraham misalnya, pada waktu dikunjungi oleh tiga orang malaikat Tuhan, ia sedang duduk di pintu kemahnya (Kej. 18:1). Istri Abraham Sarah waktu itu berada di dalam kemah (Kej. 18:9).\f*

Lama kelamaan tatkala orang Israel sudah menetap di situ negeri yang mereka tuju, Palestina, mereka mulai tinggal di kota-kota di mana rumah-rumah dibangun. Kebiasaan mereka yang lama berdiam di kemah mereka tinggalkan sedangkan sebagai penggantinya mereka mendirikan rumah. Sebagian dari mereka tinggal di rumah-rumah yang ditinggalkan oleh orang-orang Kanaan.[20] Dengan melihat bangunan rumahnya, kita dapat membedakan antara pemilik yang kaya dan pemilik yang sederhana. Rumah-rumah yang dibangun hanya dengan satu kamar adalah milik orang-orang sederhana sedangkan yang dibangun dengan lebih dari satu kamar adalah milik orang kaya atau orang kaya raya. Bisa juga dikatakan bahwa rumah-rumah yang terdiri dari satu kamar banyak terdapat di desa-desa sedangkan yang lebih dari satu kamar kebanyakan terdapat di kota-kota besar.[21] Kebiasaan lama tinggal di dalam kemah membuat orang Israel terbiasa tinggal berkeliaran di luar rumah daripada di dalam rumah. Kemah (pada zaman leluhur) atau rumah (pada zaman bernegara) bagi mereka hanya merupakan tempat istirahat atau melepaskan lelah atau tempat perlindungan baik dari panas terik matahari maupun dari kedinginan atau hujan. Kegiatan hari-hari kebanyakan dilakukan di luar rumah. Karena begitu pentingnya rumah sebaga tempat berlindung, maka para penulis Kitab Suci menggambarkan Allah sebagai "Tempat Perlindungan" untuk "berteduh" (Mzm. 61:3; Yes. 4:6).

Pada umumnya atau kebanyakan rumah-rumah orang Israel kuno terdiri dari satu kamar saja. Rumah ini berbentuk kotak yang seolah-olah didudukkan saja di atas tanah. Tanah di mana rumah itu diletakkan terlebih dahulu diratakan dan kemudian dikeraskan dengan mencampurkan bahan perekat dengan Lumpur lalu dibiarkan mengeras sendiri atau menggilasnya dengan batu.

Dindingnya dibuat dari batu bata yang bahannya diambil dari Lumpur yang dikeringkan di bawah panas matahari. Dalam kitab Ayub rumah seperti ini disebut "makhluk dari tanah liat" (Ay. 4:19). Tetapi kadang-kadang dinding rumah ini bisa juga dibuat dari batu pasir yang terkenal dinegeri itu.[22]  Atap rumah dibuat rata dan kukuh. Bahan-bahannya terdiri dari balok-balok guntung yang dipasang melintang dari atas dinding yang satu ke atas dinding yang di hadapannya. Balok-balok ini ditutupi dengan buluh anyaman kemudian dilapisi pula dengan tanah liat atau tanah saja; pasir dan batu kerikil ditaburkan di atasnya lalu batu penggiling digunakan untuk meratakannya supaya kedap air.

Ditutupnya atap rumah dengan tanah liat atau tanah atau mungkin juga Lumpur, dapat dipahami kalau atap rumah itu gampang dtumbuhi oleh rumput-rumputan. Hal seperti ni dapat kita baca dalam Mzm. 129:6 di mana dikatakan, "Biarlah mereka seperti rumput di atas atap yang menjadi kering sebelum dapat tumbuh" (lihat juga  2Raj. 19:26; Yes. 37:27). Kalau atap rumah hanya ditutup dengan lumpur, maka dapat dipahami juga bahwa bilamana turun hujan lebat, hujan itu bisa mengakbatkan atap itu miris atau bocor dan bisa menyebabkan kesulitan bagi penghuninya. Pengalaman akan air yang menetes dari atas atap rumah ini dibaratkan dengan seorang wanita yang menyusahkan suaminya (Ams. 19:13; 27:15).[23]

Berhubung atap rumah itu rata dan mudah dgunakan untuk berbagai kegatan hari-hari, maka ia sering digunakan untuk tempat merajut, membakar roti, menjemur buah ara atau untuk membersihkan biji-bijian gandum dsb. Dalam Kis. 10:27; Luk. 12:3). Kebiasaan-kebiasaan seperti ini sering dilakukan di rumah-rumah orang kebanyakan karena rumah mereka itu pada umumnya hanya bertingkat satu.

Rumah-rumah atau gedung yang bertingkat dua jarang terdapat kecuali di kota-kota besar seperti Yerusalem misalnya. Dalam rumah seperti itu terdapat kamar khusus untuk tamu yang bisa juga digunakan untuk tempat berdoa. Kamar seperti inilah yang dimaksudkan oleh Yesus dalam Mat. 6:6 di mana Ia menasihatkan para pengikut-Nya untuk tidak memperagakan kesalehan mereka di depan umum. Ada juga kamar doa di bilik atas seperti yang dipakai oleh Yesus dengan para pengikut-Nya untuk Santapan Paskah (Luk. 22:12). Rupa-rupanya bilik ini adalah milik salah seorang pengikut-Nya yang cukup berada karena ruangannya cukup luas. Dalam Kis. 1:13 dikatakan bahwa ruangan ini dipakai lagi oleh sejumlah 120 orang pengikut Yesus setelah Ia nak ke surga.[24] 

ADAT ISTIADAT

Pergaulan

Salah satu ciri khas adat ketimuran orang Israel umumnya maupun Yahudi khususnya ialah keramahtamahan. Tamu mana pun yang masuk ke dalam rumah seorang Yahudi akan disambut dengan salam hangat. Adat ini dipakai turun-temurun malahan di kemudan hari dibawa alih ke dalam agama Kristen. Ini bukanlah berarti bahwa di Israel tidak ada orang yang brutal atau kasar, tetapi sikap dasar bangsa ini ialah keramahan. Seperti diceritakan di atas, Abraham pernah melayani tiga orang asing di kemahnya yang dilakukannya dengan penuh rasa ikhlas. Kemudian tindakan itu menjadi tolok ukur bagi kehidupan moral orang percaya (Ibr. 13:2; Mat. 25:35). Pada waktu Eliezer ditugaskan oleh Abraham meminang seorang gadis bagi Ishak, ia dilayani dengan sangat ramah oleh seorang gadis yang belum dikenalnya dan gadis itu sendiri menganggapnya sebagai seorang asing yang perlu pertolongan. Ternyata bahwa gadis itu adalah Ribka yang kemudian menjadi istri Ishak (Kej. 24:1-67).

 

Pada zaman Perjanjian Baru, Yesus mengajar para pengikut-Nya untuk membuka pintu rumah mereka bagi semua orang bahkan bagi fakir miskin dan orang-orang cacat (Luk. 14:13). Rumah orang Yahudi adalah rumah persahabatan dan tempat berbagi rasa. Walaupun ada orang yang menyalahgunakan sifat adat keterbukaan ini, keramahtamahan adalah bagina dari tenunan adat baik kepercayaan Yahudi maupun ajaran Yesus Kristus.[25] 

Bila ada seseorang yang semata-mata asing berhenti di depan pintu, orang itu harus diperlakukan sebagai teman lalu diberi makan, penginapan, dilindungi dan kalau perlu diberi pakaian. Kata Yunani untuk keramahtamahan adalah "cinta akan orang asing" (Rm. 12:13; Tt. 1:8; 1Ptr. 4:9). Bila suasana keramahan menjadi cacat karena suatu sikap yang kasar atau tidak bersahabat, maka hal itu akan dianggap sebagai sikap kekafiran (Luk. 16:19-25). Dalam Perjanjian Baru sikap keramahan ini dipertahankan sekuat-kuatnya dan secara khusus surat-surat rasuli Filemon, 2 dan 3 Yohanes menekankan masalah ini.[26] 

2. Perkawinan

a. Meminang

Sebagaimana cerita Eliezer di atas, perkawinan dalam Perjanjian Lama diatur oleh keluarga atau khususnya orang tua. Pihak lelaki datang ke pihak perempuan untuk meminang seorang gadis yang diinginkan oleh orang tua pihak lelaki. Hal ini terjadi misalnya pada Ismael (Kej. 21:21), Ishak (Kej. 24), dan Yakob (Kej. 28:1-3). Pengaturan perkawinan di kalangan orang Ibrani ini mirip-mirip dengan cara-cara yang berlaku di suku-suku bangsa di Indonesia seperti misalnya suku bangsa Batak, Dayak dan Toraja. Pengaturan perkawinan dimulai dengan jalan menghubungi pihak keluarga wanita terutama dengan orang tua yang bersangkutan kemudian dengan saudara-saudaranya. Kalau bukan orang tua langsung yang menghubungi, bisa juga dengan seorang atau beberapa orang perantara. Dalam kasus Ishak, maka Eliezerlah yang menjadi perantara. Seorang perantara oleh Yohanes Pembaptis disebut sebagai "sahabat pengantin" (Yoh. 3:29).[27] Sahabat pengantin ini dalam tugasnya sebagai perantara bertindak atas nama pengantin dan ia sudah diberitahukan terlebih dahulu tentang kesanggupan dan kemampuan pengantin sampai berapa banyak pemberian yang dapat pengantin lelaki berikan kepada pengantin perempuan. Dengan ditemani oleh orang tua pihak lelaki dan mungkin juga disertai oleh beberapa orang dari kaum kerabat pihak lelaki, perantara ini pergi ke rumah pihak perempuan. Setiba di rumah, ayah pihak lelaki memberitahukan bahwa yang akan menyampaikan maksud kedatangan rombongan mereka adalah si pengantara tadi.

Ayah dari keluarga pihak perempuan kemudian menimbal untuk menunjuk juga seorang juru bicara mereka. Sebelum kedua belah pihak bernegosiasi, maka minuman kopi disuguhkan kepada rombongan yang datang, namun mereka menolak untuk meminumnya sebelum misi mereka selesai (lhat Kej. 24:33 dalam kasus Eliezer). Setelah kedua juru bicara dari kedua belah pihak berhadapan, maka pembicaraan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Pihak perempuan perlu mendapatkan bukti yang bisa dipegang mengenai bentuk pemberian yang akan diterimanya dari pihak lelaki. Bilamana suatu kesepakatan sudah diambil maka kedua juru bicara tadi bangkit berdiri  saling menyalami satu dengan yang lain, dan kopi langsung dibawa dan mereka sama-sama minum sebagai tanda perjanjian yang telah dicapai.[28]

 

Untuk menyungguhkan maksudnya, pihak lelak menyerahkan berbagai hadiah kepada orang tua dan saudara-saudara pihak perempuan. Pemberian hadiah ini tidak selalu dalam bentuk material seperti yang dilakukan oleh Eliezer tetapi bisa juga dengan cara seperti yang dilakukan oleh Yakob misalnya: ia bekerja selama tujuh tahun untuk mendapatkan istrinya (Kej. 29:15-19). Maksud dari pemberian atau mas kawin ini adalah untuk memberikan jaminan hidup kepada si mempelai wanita seandainya perkawinan itu berakhir alias gagal di tengah perjalanan kehidupannya. Atas alasan itu maka mas kawin biasanya diberikan dalam bentuk uang logam atau permata. Karena itu cerita tentang perempuan yang kehilangan satu dari sepuluh uang peraknya (Luk. 15:8, 9) sangat  menyesal dan berusaha untuk mencari dan mendapatkannya kembali.[29]

b. Bertunangan

Pertunangan dalam kalangan orang Yahudi merupakan suatu persiapan untuk perkawinan dan bukan hanya suatu perjanjian kawin tanpa ikatan. Pertunangan berarti suatu ikatan pasti untuk perkawinan sehingga tidak mungkin dibatalkan lagi. Sebelum pembuangan ke Babil, pertunangan merupakan perjanjian lisan oleh kedua belah pihak namun pertunangan ini hampir dapat disamakan dengan perkawinan seperti yang digambarkan dalam Yeh. 16:8, di mana dikatakan bahwa, "... kuikat janji perkawinan denganmu, dan engkau menjadi milikku." Janji perkawinan secara lisan seperti ini berlangsung sampai orang Israel kembali dari pembuangan waktu mana pertunangan dikukuhkan juga dengan penandatanganan perjanjian kawin.[30] Hari pertunangan dirayakan dengan suatu pesta dan saling memberi hadiah supaya perstiwa itu menjadi resmi. Masa pertunangan biasanya berlangsung selama satu tahun. Di zaman dahulu kala, orang lelaki Israel yang sedang menjalani masa pertunangan dilarang ikut dalam peperangan supaya ia tidak mati sebelum kawin (Ul. 20:7). Masa pertunangan itu dipandang sangat suci sehingga bilamana ada lelak lain yang bersetubuh dengan wanita yang sedang menjalankan pertunangan, maka si pelanggar akan dihukum dengan lemparan batu sampai mati (Ul. 22:23, 24). Tetapi bilamana si wanita yang digauli tidak bertunangan, maka lelaki itu tidak dilempar dengan batu tetapi harus membayar kepada ayah si wanita dan harus mengawininya.[31]

 

Pada waktu Yusuf dan Mara bertunangan secara sah, segala pengaturan pertunangan yang diperlukan menuju jenjang perkawinan sudah diselesaikan selengkapnya (Luk. 2:5). Namun sebagaimana kebiasaan masyarakat umum, mereka tidak pernah berhubungan kelamin sehingga kehamilan Maria merupakan sesuatu yang sangat memalukan bagi dua orang yang berpasangan maupun keluarga Maria sendiri. Dan lelaki yang menghamili dia harus dicari dan dilempar dengan batu sampai mati. Namun, Yusuf yang mengetahui akan seluk beluk adat istiadat itu, tidak menghendaki supaya Maria tersinggung dan menanggung aib, ia tidak mau memutuskan pertunangan mereka secara resmi melainkan secara diam-diam saja (Mat. 1:19).[32]

 

c. Perceraian

Perceraian perkawinan terjadi di kalangan orang Israel bilaman sang suami mendapatkan "ketidakbersihan" pada diri istrinya (Ul. 24: 1). Salah satu contoh mengenai "ketidakbersihan" ini ialah bahwa sang suami waktu menikahi istrinya ternyata bahwa istrinya itu bukan lagi gadis. Kalau ternyata bahwa gadis itu memang bersalah, maka ia harus dihukum mati dengan lemparan batu (Ul.  22:13-21).

 

Contoh lain ialah bilamana sang suami mencurigai istrinya melakukan perbuatan zinah. Untuk menjernihkan soal itu sang suami membawa istrinya kepada imam untuk diuji. Ujian ini disebut "ujian kecemburuan" atau bisa juga disebut "ujian berat". Cara menguji seperti ini sudah biasa dalam adat budaya manusia di Asia Barat.[33] Dalam ujian ini wanita itu disuruh minum air putih. Bilamana ia tidak bersalah, maka air itu tidak akan mendatangkan bahaya baginya. Tetap bilamana ia bersalah, maka air itu akan menyebabkannya sakit dan bila demikian halnya, maka ia dihukum dengan lemparan batu sampai mati karena dianggap sebagai seorang pelacur (Bil. 5:11-31).

 

Sejauh masalah perceraian, maka perceraian hanya boleh terjadi kalau sang suami menceraikan istrinya. Sang istri sama sekali tidak mempunyai hak untuk menceraikan suaminya walaupun dengan alasan apa pun. Karena itu bilamana seorang wanita sudah tidak merasa betah lagi dengan suaminya, maka ia bisa saja pergi meninggalkan suaminya tanpa surat cerai (Hak. 19-21). Secara resmi sang istri terikat kepada suaminya selama mereka masih hidup atau sampai pada waktu suaminya menceraikannya. Seandainya sang istri diberikan surat keterangan cerai suaminya, maka ia boleh saja kawin dengan lelaki lain mana pun asal saja lelaki yang bukan imam (Im. 21:7, 14; Yeh. 44:22). Tetapi sayang bagi sang istri yang sudah diceraikan oleh suaminya; ia tidak mungkin rujuk kembali dengan suaminya karena wanita yang demikian sudah dianggap pelacur, hal mana merupakan sikap melawan terhadap suami (Mat. 2:16).[34]

 

KOTA DAN DESA

Berdasarkan hasil penggalian yang dilakukan di zaman modern ini, kota purbakala Israel dapat dibuat diskripsinya sebagai berikut. Kota-kota Israel, sama seperti kota-kota bangsa lainnya di zaman Alkitab Perjanjian Lama, terutama zaman Raja-raja dst., mempunyai dinding tembok yang kukuh sebagai kubu pertahanan. Tinggi tembok ini tidak tanggung-tanggung sehingga dilukiskan dalam Ul. 1:28 "... kota-kota di sana besar dan kubu-kubunya sampai ke langit."[35] Setiap kota mempunyai pintu gerbang sebagai jalan keluar masuk sehari-hari bagi penghuni kota.

Setiap kota berdinding tembok mempunyai pintu gerbang. Kota yang kecil mempunyai hanya satu pintu gerbang  sedangkan kota yang lebih besar mempunyai lebih dari satu pintu gerbang. Di sebelah kiri dan kanan pintu gerbang dibangunkan menara-menara yang tinggi dan di atas pintu gerbang dibuatkan tempat penjaga (2Sam. 18-24). Daun pintu gerbang itu dilapisi dengan besi (Yes. 45:2). Ada juga kota yang dibuat dengan tembok rangkap, tembok luar dan tembok dalam. Kota Yerikho misalnya mempunyai tembok luar setebal 1,5 - 1,8 meter dan tembok dalamnya setebal 3,3 - 3,7 meter. [36] Dalam Yes. 26:1 dikatakan bahwa tembok luar itu adalah benteng.

Pintu gerbang bisa juga dipakai sebagai tempat pertahanan kota atau pusat keramaian untuk umum. Ke pintu gerbang seperti inilah Raja Daud telah turun untuk menentramkan pasukannya yang kecut hati karena Raja telah menderita kesedihan yang hebat atas kematian anaknya Absalom yang memberontak terhadapnya (2Sam. 18:4, 24, 33; 19:8). Dalam pada itu pintu gerbang juga bisa berfungsi sebagai tempat berjual-beli atau pasar (2Raj. 7:1, 18). Tetapi bisa juga sebagai tempat bersidang untuk memutuskan karena di sinilah orang tua-tua, para hakim dan raja bisa duduk secara resmi (Ul. 21:19; 22:15; Rut 4:1, 11; 2Sam. 18:24; Yes. 29:21).[37]

Tidak sulit untuk membedakan desa dan kota di Israel karena perbedaan itu sangat jelas. Bila kota mempunyai dinding tembok atau benteng, maka desa adalah suatu lokasi terbuka di mana terdapat kumpulan beberapa rumah, tanpa dinding tembok (Im. 25:29, 31; Ul, 3:5; 1Sam. 6:18; 1Taw. 27:25).Organisasi dan administrasi desa sangat sederhana dibandingkan dengan kota. Seperti dikatakan di atas, di desa rumah biasanya hanya mempunyai bilik satu saja. Desa tidak mempunyai parit dalam yang mengelilinginya, maupun benteng atau pertahanan lainnya (Yeh. 38:11). Ia adalah kota yang terbuka (Est. 9:19).[38]

\fig Ilustrasi (Rumah sederhana berbilik satu*

Wight, Fred H., Manners and Customs of Bible Lands. Chichago: Moody Press, 1987, p. 21.\fig*

Pada zaman Talmud desa bisa dengan mudah dibedakan dari kota karena desa tidak mempunyai rumah ibadat (sinagog). Hal itu tidak diungkapkan dalam Perjanjian Baru, meskipun sebutan tentang kota dan desa tetap diperlihatkan dalam kitab-kitab Injil Sinoptis. (Lih. Mat. 9:35; 10:11; Mrk. 6:56; Luk. 8:1; 13:22).

Sebuah desa bisa bertumbuh menjadi sebuah kota kecil dalam tempo beberapa tahun saja. Jadi desa seperti itu dibuat dinding temboknya sehingga menjadi kota kecil (1Sam. 23:7). Tembok ini dibuat untuk menahan serangan musuh pada masa perang. Tetapi pada masa damai orang tidak usah ragu-ragu tinggal di luar kota yang berdinding tembok. Nama KAPERNAUM ada kemungkinan menggambarkan pertumbuhan sebuah desa menjadi kota karena nama itu berarti "desa Nahum". Betlehem kadang-kadang disebut kota (plis) dalam Lukas 2:4 tetapi kadang-kadang desa (koome) dalam Yoh. 7:42. Sebaliknya suatu kota yang runtuh bisa berubah menjadi desa (Za. 2:4).[39]

Sering kali suatu desa bergantung kepada kota tertentu untuk perlindungan dan untuk hal-hal ekonomi dan politik tertentu. Dalam hal yang demikian maka desa itu di bawah pemerntahan kota yang bersangkutan. Di zaman purbakala, di Eropa desa-desa seperti itu dibangun di sekitar kota bahkan menempel pada tembok kota. Ketergantungan desa-desa pada kota seperti itu terbukti dalam pembagian tanah di bawah kewenangan Yosua. Misalnya dikatakan bahwa 114 kota terdaftar sebagai bagian yang diberikan kepada Yehuda "termasuk desa-desa di sekitarnya" (BIS) (Yos. 15:32-62; 18:24, 28; 1Taw. 6:54 dst. dll.)

Desa-desa itu terlibat dalam pengolahan tanah, pertanian dan peternakan Tanah di sekitar tempat itu secara bersama-sama dikerjakan oleh para penduduk desa di situ. Pada musim dingin, di situlah para gembala berkumpul untuk menjaga domba-dombanya. Pada musim semi atau musim panas sering kali para gembala itu keluar dari desa-desa itu. Perlu diketahui bahwa padang-padang rumput di sekitarnya adalah bagian milik dari desa bersangkutan (1Taw. 6:54 dst.).

Ada kalanya perkemahan juga disebut desa. Perkemahan orang-orang Ismael (Kej. 25:16; dari Kedar dalam Yes. 42:11) merupakan suatu desa. Itulah yang disinggung dalam syair paralelisme dalam Mazmur 69:25. Dari dalam kehidupan pedesaan inilah muncul orang-orang terkenal seperti Saul dan Daud. Jadi para petani di Israel bukanlah orang-orang yang terkecil (Hak. 5:11).

 

PENUTUP

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengungkapkan seluruh rincian latar belakang budaya Alkitab Perjanjian Lama karena hal itu tidak mungkin dilakukan dalam jumlah halaman yang telah ditentukan untuk itu. Cukilan-cukilan di atas adalah upaya minimal untuk menampung secara maksimal deskripsi budaya tersebut sehingga dapat memberikan contoh-contoh masukkan untuk melihat hubungan antara ungkapan-ungkapan Alkitabiah dan latar belakang budaya di balik ungkapan-ungkapan itu. Lukisan-lukisan secara visual juga diberikan secara terbatas hanya sekedar memberikan ilustrasi untuk memudahkan pembaca membayangkan apa yang melatarbelakangi pemikiran Alkitab pada umumnya dan Alkitab Perjanjian Lama pada khususnya.

 

Daftar Rujukan Pustaka:

Berrett, La Mar C., Discovering the World of the Bible. (Nashville, Tenessee: Thomas Nelson Publishers), 1979.

Buttrick, George Arthur. The Interpreter's Dictionary of the Bible (Vol. 1 & 2) New York: Abingdon Press, 1962.

Coleman, William L., Today's Handbook of Bible Times and Customs. (Minneapolis, Minnesota: Bethany House Publishers), 1984.

Packer, James L., (ed.), Daily Life in Bible Times.

(New York: Thomas Nelson Publishers). 1982.

Thomson, J.A. Handbook of Life in Bible Times.

Leicester: Inter Varsity Press, 1986.

van Deursen, A. Purbakala Alkitab Dalam Kata dan Gambar

(Jakarta: BPK Gunung Mulia), 1991, Judul asli: "Bijbels Beeldwoordenboek" diterjemahkan oleh E.I. Soekarso.

Wight, Fred H., Manners and Customs of Bible Lands.

Chicago: Moody Press, 1987.



[1] Thomson, J.A. Handbook of Life in Bible Times. Leicester: In-ter-Varsity Press, 1986 p. 11.

[2] Buttrick, George Arthur. The Interpreter's Dctionary of the Bible (Vol. ) New York: Abingdon Press, 1962, p. 438.

[3] Ibid., 418.

[4] Ibid. Vol. 4, p. 773.

[5] Ibid., vol. 3 , p. 596.

5a Ibid., vol. 3, p. 596.

[6] Ibid.

[7]  Ibd., vol. , p. 597-599.

[8] Berrett, La Mar C., Discovering the World of the Bible (Nashville, Tenessee: Thomas Nelson Publishers), 1979, p. 237.

[9] Buttrick, op.ct, vol. 4, p. 840, cf, GEZER CALENDAR.

[10] Thomson, J.A., op. cit., p. 129.

[11] Ibid., p. 130.

[12] Mungkin juga bangsa-bangsa Asia pada umumnya.

[13] Wight, Fred H., Manners and Customs of Bible Lands. Chicago: Moody Press, 1987, p. 147.

[14] Ibid., p. 148.

[15] Edwn W. Rice, Orientalism in Bible Lands, p. 241-242 as quotes by Wight, op. cit., p. 150.

[16] Wight, Ibid., p. 151.

[17] Ibid., p. 157.

[18] Ibid., p. 158.

[19] Ibid., p. 159.

 

[20] James 1, Packer (ed.), Daily Life in Bble Times. (New York: Thomas Nelson Publshers), 1982, p. 149.

[21] Wight, op. cit., p. 35, quoted from George M. Mackie, Bible Manners and Customs, p. 90.

[22] Wight., Ibid., p. 22.

[23] Ibid., p. 25.

[24] Coleman, William L. Today's Handbook of Bible Times and Customs. (Minneapolis Minnesota: Bethany House Publishers), 1984, p. 13.

[25] Ibid., p. 19.

 

[26] Wight, op. cit., p. 127.

 

[27]  Wight, op. cit., p. 127.

[28] Ibid., p. 127, quoted from H. Clay, Studies in Oriental Social Life, Philadelphia: The Sunday School Times Co., 1984, pp. 17-20.

 

[29] ft Ibid., p. 128.

[30] Ibid., p. 129.

[31] Coleman, op. cit., p. 88.

[32] Ibid.

[33] James I. Packer, op. cit., 54.

[34] Ibid.

[35] Mungkin tingginya antara 16 dan  18 meter. Lih. A van Deursen, Purbakala Alkitab dalam Kata dan Gambar (Jakarta: BPK Gunung Mulia),  1991, hal. - Judul asli: "Bijbels Beeldwoordenboek" diterjemahkan oleh E. I. Soekarso.

[36] Ibid.

[37] Buttrick, George Arthur, op. cit., vol. 2, p. 355.

[38] Ibid., vol. 4 , p. 784.

[39] Ibid.

 
< Prev   Next >
© 2007 Lembaga Alkitab Indonesia 2007