|
Proyek Penerbitan
|
|
Thursday, 17 January 2013 |
|
Penerbitan Perjanjian Baru dalam bahasa Manggarai
Manggarai adalah sebuah wilayah yang mencakup tiga kabupaten di Flores Barat. Wilayahnya mencakup 1/3 dari pulau Flores. Luasnya: 7.136 km2
Secara historis, Manggarai pernah menjadi daerah taklukan kerajaan Bima (di P. Sumbawa) dan kerajaan Makassar (di P. Sulawesi). Mata pencaharian utama penduduknya adalah pertanian. Pengolahan lahan pertanian masih dilakukan secara tradisional. Umumnya para petani masih mengandalkan air hujan dan sungai untuk irigasi. Selain padi dan jagung, Manggarai juga dikenal di NTT sebagai daerah penghasil kopi, vanili, kemiri, ubi, dan kacang-kacangan. Sebagian kecil penduduk yang berdiam di wilayah pantai berprofesi sebagai nelayan-nelayan sederhana.(termasuk P. Komodo). Suku dengan jumlah penduduk sekitar 600.000 jiwa ini merupakan suku terbesar di pulau Flores yang berjumlah 1,4 juta jiwa. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Manggarai. Ada empat dialek utama, yaitu Manggarai Barat, Manggarai Tengah, Manggarai Tengah- Barat, dan Manggarai Timur. Dialek Manggarai Tengah selama ini menjadi ‘Bahasa Manggarai’. Selain itu, ada sekitar 43 subdialek. Mayoritas penduduknya beragama Kristen (Katolik dan Protestan), dan ada sebagian kecil penduduk beragama Muslim dan animisme. Berbeda dengan bagian Flores lainnya, daerah ini lebih “hijau”: banyak hutan dengan gunung-gunung tinggi. Sekitar 40% wilayah Manggarai masih tertutup hutan.
|
|
Read more...
|
|
Proyek Penerbitan
|
|
Wednesday, 16 January 2013 |
|
Penerbitan Perjanjian Baru Bahasa Tagulandang
Tagulandang adalah salah satu dari tiga pulau utama di wilayah Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Pulau ini
dapat ditempuh dalam 3 jam perjalanan dari Manado dengan kapal cepat. Menurut hasil sensus tahun 2010, Pulau Tagulandang bersama dengan Siau dan Biaro dihuni oleh sekitar 60 ribu penduduk yang mayoritasnya merupakan anggota sejumlah gereja. Dalam catatan sejarah, kekristenan sudah merambah ke wilayah ini sejak pertengahan abad ke-17 dan sampai sekarang kekristenan itu terasuh baik lewat kehadiran sejumlah denominasi dan organisasi gerejawi, terutama Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) yang memang hadir di seluruh desa dengan total 38 jemaat lokal dan 2 bakal jemaat.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat berkomunikasi dengan bahasa Tagulandang, sebuah dialek dari bahasa Sangir. Selain oleh masyarakat yang diam di Tagulandang dan Biaro, bahasa ini juga digunakan oleh sekitar 40 ribu warga yang berasal dari pulau ini yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia (terutama Jakarta, Surabaya, dan Manado).
|
|
Read more...
|
|
Proyek Penerbitan
|
|
Tuesday, 15 January 2013 |
|
Penerbitan Kabar Baik Bergambar dalam Bahasa Mentawai
Mentawai adalah nama sebuah kepulauan sekaligus nama sebuah kabupaten di Provinsi Sumatra Barat. Mentawai terdiri atas empat pulau utama, yaitu
pulau Siberut, pulau Sipora, pulau Pagai Utara, dan pulau Pagai Selatan (yang dikelilingi oleh pulau-pulau kecil). Pulau-pulau itu dihuni terutama oleh suku Mentawai yang termasuk suku tertua di Indonesia. Kabupaten Kepulauan Mentawai yang jumlah penduduknya sekitar 64.235 jiwa ini terbagi menjadi empat kecamatan dengan 40 desa.
Komoditi Kabupaten Mentawai didapatkan dari sektor perikanan, perkebunan, peternakan, pertanian tanaman pangan dan holtikultura, serta industri dan perdagangan. Dari sektor perikanan terdapat produksi perikanan tangkap, budidaya perikanan air laut, dan budidaya perikanan air tawar. Sektor peternakan mencakup produksi ternak besar, ternak kecil, unggas, dan hasil-hasil ternak. Dari sektor perkebunan dihasilkan kelapa dan cengkeh yang menjadi andalan daerah ini.
|
|
Read more...
|
|
LAI Berita Terkini
|
|
Friday, 11 January 2013 |
Tidak Mudah Mangajar Orang Tua
Lius Manoppo
Salah seorang tutor PBH/PBA dari kelompok belajar desa Ongulara. Menurut pemuda lulusan dari salah satu Sekolah Tinggi Teologia di Sulawesi Utara ini, menjadi tutor program PBH/PBA LAI di Palu dan Donggala tahun 2012 ini memberikan tantangan dan pengalaman rohani tersendiri.
“sebelumnya saya melayani di desa ini sebagai guru yang mengajar anak-anak kecil. Disini belum ada sekolah. Jadi wajar bila anak-anak yang sudah usia remaja pun banyak yang belum bisa membaca. Setiap hari saya mengajar mereka membaca. Namun, ketika saya terlibat sebagai tutor dalam program PBA LAI, saya tidak lagi mengajar anak-anak. Malah saya mengajar orang tua yang kadang sudah lanjut usia. Tentu ini bukan hal mudah untuk saya, mereka itu sudah tua, daya tangkap serta cara berpikir mereka sangat jauh berbeda dibandingkan dengan anak kecil. Saya harus memutar pikiran dan menemukan cara-cara khusus untuk mengajar mereka. Yah, meskipun awalnya tidak mudah tetapi sekarang saya mulai melihat hasilnya. Orang-orang tua yang tadinya tidak kenal huruf sekarang mulai bisa membaca 1-2 kata bahkan beberapa di antaranya mulai membaca kalimat dan paragraf-paragraf singkat. Ini menjadi sukacita tersendiri untuk saya. Saya akhirnya bisa lebih dekat dengan masyarakat Da’a di tempat ini. Dan ini juga memberikan kemudahan bagi saya untuk mengajar anak-anak mereka yang masih kecil. Karena setelah orang tuanya bisa membaca, anak-anak mereka pun di motivasi supaya rajin membaca,” Ungkap laki-laki asal Sulawesi Utara ini.
|
|
|
LAI Berita Terkini
|
|
Thursday, 10 January 2013 |
|
Selain warga belajar sendiri, dampak positif dari setiap pelaksanaan program Pemberantasan Buta Huruf (PBH) dan Pembaca Baru Alkitab (PBA) Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) juga turut dirasakan oleh para tutor maupun pimpinan Gereja, berikut ini adalah beberapa kesaksian dari mereka yang merasakan manfaat langsung dari pelaksanaan program PBH/PBA LAI di Donggala, Palu, Sulawesi Tengah.
Mayor Yohanis Pany
Mayor Pany, begitu sapaan akrab beliau. Sebelum menjabat sebagai Wakil Kepala Rumah Sakit Bala Keselamatan Woodward di Palu, beliau adalah Sekretaris Bala Keselamatan Divisi Palu Timur. Mayor Pany adalah contact person pertama LAI dengan Bala Keselamatan di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Saat pertama kali berkomunikasi dengannya tentang rencana PBH/PBA ini, beliau ini sangat antusias dan Bala Keselamatan akan mendukung pelaksanaanya. Hal ini terbukti, ketika Pelaksana Lapangan mengalami kesulitan-kesulitan di lapangan, beliau tidak ragu-ragu untuk memberikan bantuan. Beliau juga aktif untuk menanyakan perkembangan Program, meskipun sekarang beliau melayani di rumah sakit. Baginya, keberadaan Program PBH/PBA ini sangat membantu jemaat Bala Keselamatan, khususnya yang berada di wilayah Palu Timur.
“Kami sungguh berterima kasih kepada LAI karena LAI telah membantu kami
para Opsir untuk melayani jemaat khususnya di wilayah Palu Timur.
Program PBA ini mempermudah kami para Opsir ke depannya untuk melayani
jemaat. Karena ketika jemaat telah bisa membaca, maka tugas kami sebagai
Opsir lebih ringan lagi, kami lebih mudah untuk memberdayakan jemaat.
|
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
| Results 13 - 18 of 211 |